Menata Sandal, Menata Bangsa

Menata Sandal, Menata Bangsa

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Menata Sandal, Menata Bangsa

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Menata sandal tampak sepele. Tapi di sanalah harga diri diuji, dan watak bangsa diam-diam dibentuk.”

Guru saya sering mengingatkan tentang sandal-sandal yang berserakan di depan rumah atau masjid. Tidak dengan suara keras. Tidak pula seperti sedang menegur. Beliau hanya berkata pelan, “Belajar menata sandal dulu. Hati nanti ikut tertata.” Sepintas terdengar ringan, tapi entah kenapa selalu teringat.

Waktu itu saya belum benar-benar menangkap maksudnya. Rasanya seperti urusan kecil saja.

Tapi lama-lama saya sadar, yang sedang dibicarakan memang bukan sandal.

Yang diuji bukan tangan kita, melainkan harga diri kita.

Kita tidak alergi dengan istilah rendah hati. Kita bisa saja bicara panjang tentang pentingnya melayani. Kita tahu pentingnya sikap tawadhu’. Namun begitu harus benar-benar menunduk dan merapikan sandal orang lain, sering muncul suara kecil yang sulit diakui: “gengsi ah”, “Kenapa harus saya?”

Di situ biasanya kita mulai mengenali isi hati sendiri.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menulis bahwa penyakit hati sering bergerak diam-diam, bersembunyi dalam perkara yang kelihatannya ringan. Kesombongan jarang datang dengan wajah keras. Ia justru muncul sebagai pembenaran “halus” yang kita normalkan. “Gampang nanti saja.” “Ada yang lain kok.” “Bukan urusan saya.”

Dalam sebuah kesempatan berkunjung ke Jepang, kami sempat singgah di sebuah restoran yang modelnya lesehan. Para tamu diminta melepas sandal sebelum masuk. Awalnya biasa saja, tidak ada yang mengejutkan. Sampai kemudian terlihat pemilik restoran itu sendiri menunduk dan merapikan sandal para tamunya satu per satu. Ia melakukannya tenang saja, tanpa canggung, padahal ia pemilik tempat itu.

Ia tidak sedang memberi contoh. Ia hanya melakukan yang menurutnya pantas. Barangkali itulah yang membuat pelayanan di sana terasa begitu serius—ia hidup sebagai kebiasaan, bukan slogan.

Di situ ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Yang sulit bukan memahami dalil tentang pelayanan. Yang sulit adalah menata hati dan memulai dari diri sendiri. Kadang yang kurang dari kita bukan kecerdasan atau gagasan besar, melainkan keberanian untuk lebih dulu merendah.

Dan terus terang saja, bangsa yang terlalu sibuk ingin dihormati akan kesulitan belajar melayani.

Pada 1970, Robert K. Greenleaf memperkenalkan istilah Servant Leadership: pemimpin sejati adalah pelayan terlebih dahulu. Istilahnya mungkin baru terdengar di ruang-ruang manajemen, tetapi ruhnya sudah lama dikenal dalam ajaran akhlak. Di depan sandal yang berserakan, teori itu tidak lagi terdengar seperti materi seminar atau bahan pelatihan kepemimpinan. Ia berubah menjadi pertanyaan sederhana: sanggupkah kita memimpin diri sendiri untuk lebih dulu melayani?

Umar bin Khattab pernah memanggul gandum untuk rakyatnya yang kelaparan. Ia tidak kehilangan wibawa. Justru dari situ orang percaya. Pelayanan tidak membuatnya kecil. Ia membuatnya layak dihormati.

Dalam psikologi, Albert Bandura melalui Social Learning Theory (1977) menjelaskan bahwa manusia belajar terutama lewat pengamatan. Kita meniru apa yang kita lihat berulang-ulang, bukan sekadar apa yang kita dengar. Karakter tidak tumbuh hanya dari nasihat, tetapi dari teladan yang terus hadir di depan mata.

Mungkin itu sebabnya tindakan sederhana seperti menata sandal tidak berhenti sebagai gerakan kecil. Ia bisa menjadi bahasa diam yang membentuk kebiasaan. Dan kebiasaan, jika dibiarkan hidup, pelan-pelan menjadi watak.

Bangsa ini tidak kekurangan regulasi. Yang paling sulit adalah membangun watak. Watak yang tidak mudah tergoda keuntungan sesaat, tidak silau oleh jabatan, dan tidak alergi melayani. Watak semacam itu tidak lahir dari seminar atau slogan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dirawat setiap hari, bahkan ketika tidak ada orang yang melihat.

Hari ini yang kita butuhkan bukan pemimpin yang paling fasih berbicara, melainkan yang tidak gengsi menata hal-hal kecil. Termasuk “menata sandal rakyatnya” dalam arti yang sederhana: mendahulukan pelayanan, bukan citra.

Sebelum terlalu cepat menunjuk ke luar, mungkin ada baiknya kita menoleh ke dalam.

Di depan sandal yang berserakan, biasanya kita melakukan apa? Apakah kita langsung tergerak untuk bertindak, atau justru menunggu orang lain?

Perubahan jarang lahir dari hal yang gemuruh. Ia tumbuh dari habit yang diulang-ulang. Dari halaman masjid atau teras rumah yang sederhana. Dari keputusan kecil yang mungkin tidak diperhatikan siapa pun.

Karena sering kali watak seseorang — dan juga watak bangsa ini — terbentuk di sana.


Referensi

Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice-Hall.

Greenleaf, R. K. (1970). The servant as leader. Robert K. Greenleaf Center.



Scroll to Top