بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Masalahnya Bukan Visi, Tapi Komunikasi
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain
“Banyak organisasi punya visi besar, tapi langkahnya tetap tidak searah. Mungkin masalahnya bukan visi—melainkan komunikasi yang tidak lagi jernih.”
Banyak organisasi sebenarnya tidak kekurangan visi. Visi dan misi sudah ada, sudah lengkap. Yang justru sering menjadi masalah justru pada pola komunikasi.
Suatu hari seorang tukang kunci dipanggil untuk membuka pintu rumah yang macet. Pemilik rumah sudah mencoba berkali-kali. Tapi gagal terus. Kuncinya sama, lubangnya sama, tetapi pintu itu tetap tidak terbuka.
Tukang kunci itu datang, memperhatikan sebentar, lalu memutar kunci perlahan sambil sedikit menekan gagangnya. Pintu pun berhasil terbuka.
“Kuncinya sebenarnya sudah benar,” katanya tenang. “Hanya cara memutarnya dan tekanan yang perlu tahu arahnya.”
Dalam banyak organisasi, situasinya sering tidak jauh berbeda. Problemnya sama. Visi dan misi sudah ada, program sudah dirancang, dan orang-orang yang terlibat pun memiliki niat dan ghirah baik. Namun tanpa komunikasi yang jernih, yang efektif, langkah yang seharusnya searah justru bisa berjalan berbeda. Inilah tantangan yang harus kita hadapi.
Hal seperti ini tidak jarang terjadi pada organisasi dakwah di Indonesia. Mulai dari kepengurusan masjid, pesantren, komunitas pemuda, hingga lembaga sosial keagamaan, sering kali masalah yang muncul bukan karena target dan tujuan yang salah. Programnya baik, niatnya tulus, tetapi koordinasi tidak selalu berjalan lancar. Miscommunication sering menjadi kendala.
Informasi kadang tidak tersampaikan secara utuh. Konten dan konteks tidak dipahami secara utuh. Keputusan sudah dibuat, tetapi pemahaman di lapangan tidak selalu sama. Tanpa disadari, jarak kecil dalam komunikasi perlahan dapat berubah menjadi kiamat kecil, konflik dan perbedaan langkah.
Al-Qur’an telah mengingatkan tentang bahaya perselisihan dalam kerja bersama. Allah berfirman:
“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berselisih sehingga kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (QS Al-Anfal 46)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perselisihan di dalam barisan dapat melemahkan kekuatan bersama. Ketika komunikasi rusak, informasi tidak tersampaikan utuh. Barisan yang seharusnya kuat perlahan kehilangan daya.
Hikmah menarik tentang komunikasi juga terlihat dalam peristiwa Hudaibiyah pada tahun keenam hijriah. Setelah perjanjian dengan Quraisy disepakati, Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut sebagai tanda tahallul.
Namun para sahabat tidak segera melakukannya. Mereka bukan menolak perintah, tetapi masih diliputi perasaan berat dan sedih. Nabi kemudian masuk ke kemah dan menceritakan situasi ini kepada istrinya, Ummu Salamah.
Ummu Salamah memberi saran yang luar biasa bijak dan strategis: lakukan saja terlebih dahulu penyembelihan kurban dan mencukur rambut tanpa berkata apa pun. Nabi mengikuti saran itu. Ketika para sahabat melihat beliau melakukannya, mereka pun segera mengikuti. Kisah ini dicatat dalam literatur sirah klasik seperti karya Ibn Hisham dalam Sirah Nabawiyyah.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Kadang sebuah tindakan justru berbicara lebih jelas daripada penjelasan panjang. Ini sering disebut nonverbal communication.
Sebuah ungkapan yang sering dikaitkan dengan penulis manajemen Peter Drucker mengatakan, “The most important thing in communication is hearing what isn’t said.” Komunikasi yang matang bukan hanya mendengar kata-kata, tetapi juga menangkap pesan tersembunyi, yang tidak selalu diucapkan secara langsung.
Sering kali organisasi menjadi lemah bukan karena kurangnya orang baik, tetapi karena orang-orang baik tersebut belum terlatih dalam berkomunikasi efektif, akibatnya mereka tidak lagi saling memahami.
Organisasi dakwah pada dasarnya adalah kumpulan manusia yang berjalan menuju tujuan yang sama. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, pendidikan yang berbeda, pengalaman yang berbeda, dan cara berpikir yang tidak selalu seragam. Tanpa komunikasi yang sehat, perbedaan kecil dapat perlahan berubah menjadi jarak.
Di sinilah pentingnya pelatihan komunikasi efektif dalam organisasi dakwah. Kemampuan mendengar dengan baik (listening skills), menyampaikan gagasan dengan santun dan jernih (asertif skills), serta menghargai perbedaan pandangan bukanlah hal yang selalu datang dengan sendirinya. Ia perlu dilatih, dibiasakan, dan dirawat dalam budaya organisasi.
Karena itu menjaga komunikasi bukan sekadar urusan sederhana. Ia sangat penting. Ia adalah cara strategis merawat proses komunikasi agar langkah tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kadang organisasi tidak kehilangan visi. Ia hanya kehilangan percakapan yang jujur di antara orang-orang yang berjalan bersama.
Stay Relevant!
Kalau Boleh Dirangkum
- Banyak organisasi sebenarnya sudah memiliki visi yang baik. Masalah sering muncul bukan pada arah tujuan, tetapi pada cara orang-orang di dalamnya saling berkomunikasi.
- Seperti kunci yang sudah benar tetapi diputar dengan cara yang kurang tepat, pesan yang baik pun bisa gagal dipahami jika cara menyampaikannya tidak pas.
- Dalam kerja bersama, jarak kecil dalam komunikasi dapat perlahan berubah menjadi kesalahpahaman yang lebih besar.
- Al-Qur’an mengingatkan bahwa perselisihan di dalam barisan dapat melemahkan kekuatan bersama, dan sering kali perselisihan itu bermula dari komunikasi yang tidak utuh.
- Karena itu organisasi tidak hanya membutuhkan visi yang jelas, tetapi juga percakapan yang sehat agar semua langkah tetap searah.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Biasakan memastikan pesan benar-benar dipahami. Jangan hanya merasa sudah menyampaikan, tetapi juga cek apakah orang lain menangkap maksud yang sama.
- Latih diri untuk lebih banyak mendengar sebelum menjelaskan. Kadang masalah komunikasi selesai ketika seseorang berhasil benar-benar didengar.
- Gunakan tindakan nyata sebagai bagian dari komunikasi. Seperti dalam peristiwa Hudaibiyah, kadang contoh langsung lebih jelas daripada penjelasan panjang.
- Bangun budaya diskusi yang terbuka dan saling menghargai. Perbedaan pandangan tidak selalu berbahaya jika dibicarakan dengan cara yang sehat.
- Sisihkan ruang untuk percakapan yang jujur di dalam organisasi. Bukan hanya rapat formal, tetapi dialog yang membuat orang kembali merasa berjalan dalam arah yang sama.



