Konten vs. Konteks: Mengapa Netizen Mudah Tersulut?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Konten vs. Konteks: Mengapa Netizen Mudah Tersulut?

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Tim Soft Skills SDMIndonesia.com

“Konten viral sering bikin emosi memuncak, padahal konteksnya hilang. Saatnya jaga jari, rawat hati, dan latih empati di dunia digital.”

Pernahkah Anda membaca sebuah kalimat di media sosial lalu langsung merasa marah atau terkejut? Misalnya, “Sri Mulyani: Guru beban negara.” Atau menonton video pendek Eko Patrio dan Uya Kuya yang berjoget dengan narasi bahwa itu terjadi saat pengumuman kenaikan gaji DPR. Bahkan baru-baru ini sempat beredar kabar bohong tentang istri Gus Baha yang dikabarkan meninggal dunia, padahal ternyata yang wafat adalah istri Kiai lain dengan nama mirip. Sekilas, semua itu seolah-olah benar. Caption-nya meyakinkan, videonya nyata, judulnya mengundang rasa penasaran. Banyak orang langsung percaya, mengutuk, bersedih, bahkan menyebarkannya lebih jauh. Namun belakangan, kita tahu semuanya hanyalah hoaks, dengan cara berbeda: ada yang dipelintir, ada yang dilepaskan dari konteks, ada pula yang muncul karena kesalahpahaman identitas. Sayangnya, efeknya sama: emosi publik terlanjur terbakar.

Fenomena ini menggambarkan betapa kuatnya konten ketika dipisahkan dari konteks. Media sosial mendorong kita untuk bereaksi cepat. Tombol like, share, dan comment ada di ujung jari, membuat kita lebih mudah terbawa emosi daripada menimbang fakta. Di balik itu, ada algoritma yang memperkuat konten paling emosional, bukan paling akurat. Akibatnya, informasi yang salah atau setengah benar bisa lebih cepat menyebar ketimbang klarifikasi yang datang kemudian. Lebih dari itu, terkadang kita juga terdorong untuk segera bereaksi karena ingin terlihat paling peduli, merasa lebih paham, bahkan ingin menjadi seperti pahlawan kecil di linimasa. Niatnya mungkin baik, tetapi tanpa kehati-hatian justru bisa menambah keruh suasana.

Mengapa kita begitu mudah tersulut? Jawabannya bisa ditelusuri melalui psikologi. Martin Hoffman, seorang profesor di New York University, menjelaskan bahwa empati berkembang melalui tahap-tahap. Banyak orang masih terjebak di tahap emosional: ikut sedih ketika melihat video orang menangis, ikut marah ketika membaca komentar pedas, tapi berhenti di situ. Tidak ada refleksi, tidak ada check and recheck, tidak ada langkah moral lebih lanjut.

Paul Ekman, ahli emosi dari University of California, membedakan empati emosional dan empati kognitif. Empati emosional membuat kita cepat tersulut, sementara empati kognitif menuntut kita berhenti sebentar, menggali lebih dalam untuk memahami sudut pandang lain. Masalahnya, di media sosial, empati emosional terus dipompa, sedangkan empati kognitif sering terabaikan, padahal langkah ini yang sangat penting.

Ahli hukum Cass Sunstein menambahkan penjelasan lewat konsep echo chamber. Ruang gema digital membuat orang hanya berinteraksi dengan informasi yang sejalan dengan keyakinannya. Ketika hoaks dilemparkan ke dalam ruang gema, ia akan viral, diperkuat, diperbanyak, dan dipercaya sebagai kebenaran. Inilah mengapa satu potongan video bisa memicu ribuan, bahkan jutaan amarah, meskipun konteks aslinya berbeda sama sekali.

Data di Indonesia juga mendukung gambaran ini. Survei APJII 2024 menunjukkan lebih dari 221 juta orang Indonesia sudah menggunakan internet, sekitar 79,5 persen dari populasi. Namun indeks literasi digital masih di level sedang, dengan skor 3,65 dari 5. Artinya, akses ke internet sudah luas, tetapi kemampuan kritis untuk memilah konten masih terbatas. Banyak orang bisa membuka aplikasi, tapi belum tentu siap memahami “konteks”.

Saat diskusi panel di Universitas Gadjah Mada, Najwa Shihab pernah mengingatkan, berpikir kritis itu bukan hanya terhadap konten negatif, tapi juga terhadap konten yang “tampak positif”. Pesan ini relevan sekali. Kadang kita mudah percaya hanya karena isi berita sesuai dengan harapan atau kemarahan kita. Padahal justru di situlah jebakan paling berbahaya: konten yang sesuai minat dan selera pribadi sering lolos tanpa kita periksa konteksnya.

Di sinilah pentingnya sebuah gagasan yang saya sebut literasi empati digital, atau digital empathy literacy. Bukan hanya soal cek fakta, tapi juga kemampuan menahan diri, merasakan dampak, dan menimbang sebelum bertindak. Literasi empati digital mengajarkan kita untuk pause before share: tahan jari tiga detik sebelum menekan tombol bagikan. Ajukan pertanyaan sederhana: apakah ini benar? Apa dampaknya? Apakah menambah luka atau menyembuhkan.

Literasi empati digital juga mengajarkan kita untuk lebih peduli pada konteks. Tidak cukup hanya membaca judul atau caption, kita perlu tabayyun, kita perlu tahu siapa yang bicara, kredibilitas, kapan, dalam situasi apa. Ini seperti membaca buku: kita tidak boleh menilai isi hanya dari sampulnya. Begitu juga dengan video pendek atau potongan teks di media sosial.

Hikmah yang bisa kita petik sederhana tapi dalam: dalam kata-kata ada tanggung jawab. Satu klik bisa menolong, tapi satu klik juga bisa membakar dan melukai. Di era digital, setiap orang adalah penerbit. Setiap komentar bisa viral, setiap share bisa beranak-pinak. Maka empati bukan lagi sekadar nilai moral, tapi juga benteng kekuatan sosial.

Lalu solusi apa yang bisa kita rintis bersama? Bayangkan jika platform media sosial menambahkan filter empati: sebuah notifikasi singkat yang muncul sebelum kita membagikan konten, misalnya, “Apakah Anda sudah membaca konteksnya?” atau “Apakah ini menambah luka atau menyembuhkan?” Sederhana, tapi bisa menahan jari ribuan orang. Atau bayangkan gerakan komunitas bernama Pause Before Share yang mengajak netizen untuk tidak sekadar saring sebelum sharing, tapi juga berlatih untuk empati, merasakan sebelum membagikan.

Kita juga bisa mengembangkan kelas literasi digital, kelas yang nyaman, yang tidak kaku seperti seminar, tetapi berbasis simulasi kasus viral. Peserta diajak melihat contoh hoaks nyata, lalu menganalisis konteks yang hilang. Cara ini akan jauh lebih membekas dibanding seminar atau diskusi panel yang panjang. Bahkan lebih jauh lagi, bisa saja ada indeks empati digital: sebuah ukuran independen yang menilai kualitas empati netizen di media sosial. Hasilnya bisa jadi cermin bagi bangsa ini.

Pada akhirnya, artikel ini tidak bermaksud menyalahkan siapa pun. Media sosial hanyalah alat, yang berbahaya bukanlah teknologinya, melainkan cara kita menggunakannya. Yang kita butuhkan adalah keseimbangan: bagaimana memanfaatkan konten digital tanpa kehilangan konteks kemanusiaan. Empati adalah kunci untuk itu. Tanpa empati, kita mudah terjebak dalam siklus marah-memarahi. Dengan empati, ruang digital bisa menjadi ruang yang menyejukkan, yang mencerdaskan.

Allah sudah mengingatkan kita dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6). Ayat ini berlaku sepanjang zaman, dan semakin terasa maknanya di era kita, ketika jari bisa lebih cepat daripada hati, dan kabar bohong sering melesat lebih cepat, meninggalkan kebenaran yang tertatih mengejarnya.

Maka marilah kita jaga jari, rawat hati, dan latih empati. Kadang diam justru lebih baik. Sebab di balik setiap konten ada manusia nyata, ada keluarga yang bisa terluka, ada bangsa yang bisa terpecah. Satu klik bisa menjadi obat, tapi satu klik juga bisa jadi luka. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari hanya karena terburu-buru membagikan sesuatu. Mari kita jadikan setiap jari sebagai jalan kebaikan. Sederhana memang, tapi bisa jadi itulah amal kecil yang kelak menyelamatkan kita, dan menjadikan linimasa ini bukan lagi medan amarah, melainkan taman sejuk yang meneteskan air mata haru.

Stay Relevant!



Scroll to Top