بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Ketika Orang Tuamu Merendahkan Suara:
Apa yang Terjadi pada Jiwamu?
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain
“Orang tua tak lagi membentak. Mereka justru berbicara lebih pelan. Jangan-jangan ada yang sedang berubah dalam jiwa kita.”
Suatu saat, ketika sedang scroll medsos, muncul satu pesan yang membuat saya berhenti. Kalimatnya dalam, tidak panjang, tapi rasanya seperti menekan di dada:
“Kita tidak boleh berselisih dengan orang tua. Jika orang tuamu sampai merendahkan suaranya karena takut kepadamu, maka ketahuilah, mungkin engkau sudah durhaka.”
Saya baca sekali lagi pelan-pelan. Entah kenapa, mata ini terasa hangat. Lalu saya baca lagi, saya ulang lagi, mungkin tiga atau empat kali.
Selama ini, bisa jadi kita merasa sudah berbuat baik kepada orang tua. Tidak pernah membentak. Tidak pernah berkata kasar. Kita sadar, Al-Qur’an dalam Surat Al-Isra ayat 23 melarang kita mengatakan “ah” kepada mereka. Ayat ini sering kita dengar di berbagai forum, bahkan banyak di antara kita yang hafal di luar kepala.
Tapi kadang persoalannya bukan disitu, bukan pada bentakan dan kata “ah” yang kita ucapkan.
Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa durhaka itu banyak variasinya, bukan hanya soal ucapan kasar.
Menurut Ibnu Taimiyah, apa pun yang dalam kebiasaan umum membuat orang tua tersakiti, itu sudah termasuk bentuk kedurhakaan. Jadi ukurannya bukan sekadar bentakan. Kalau orang tua sampai merasa tertekan, merasa rendah, atau harus berhati-hati karena sikap anaknya, itu sudah tanda-tanda lampu kuning.
Dalam ilmu keluarga modern, Murray Bowen pada 1978 memperkenalkan Family Systems Theory melalui bukunya Family Therapy in Clinical Practice. Ia menjelaskan bahwa keluarga adalah satu sistem emosional yang saling terhubung. Keluarga bukan kumpulan individu-individu yang terpisah, melainkan satu kesatuan emosional yang dinamis. Ketika satu anggota berubah posisi, jabatan atau kekuatannya, anggota lain otomatis terdampak, ikut menyesuaikan diri.
Artinya sederhana. Saat anak makin mapan, makin sibuk, sudah bisa menentukan arah hidupnya, keseimbangan dalam sistem keluarga ikut berubah.
Jika kedewasaan ekonomi tidak diiringi kedewasaan sikap, adab dan perilaku, yang sering terjadi bukan konflik yang besar. Orang tua justru akan menurunkan intensitas, cenderung mengalah. Mengurangi komentar. Lebih berhati-hati agar tidak memicu jarak.
Tak jarang yang paling menyakitkan dan membuat nelangsa bukan bentakan. Justru ketika orang tua mulai takut berbicara. Mereka mulai berhati-hati di depan anaknya sendiri. Mereka lebih sering berkata “tidak apa-apa”, padahal sebenarnya ada apa-apa.
Perubahan ini pelan, tidak dramatis, tapi terasa.
Mari kita introspeksi diri sejenak. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menulis tentang haya’, rasa malu yang lembut yang tumbuh dari hati yang masih hidup. Bukan malu karena gengsi, tetapi malu karena takut melukai. Hati yang seperti itu biasanya sensitif terhadap perubahan kecil—kita segera merasa tidak enak ketika ibu berbicara lebih pelan dari biasanya, atau ketika ayah meminta sesuatu dengan suara yang seakan tertahan. Di situ hati yang benar-benar hidup tidak akan tenang.
Mari kita resapi kalimat-kalimat ini.
- “Kalau kamu sibuk nak, Ibu bisa sendiri kok. Tidak mau ganggu.”
- “Ayah cuma mau tanya sedikit… jangan marah ya.”
- “Kalau belum bisa bantu bulan ini, tidak apa-apa. Maaf merepotkan.”
- “Ya sudah, Ibu ikut saja maumu. Tidak enak kalau kamu kesal.”
- “Nanti kalau ada waktu saja ngobrolnya. Ayah tidak mau ganggu kesibukanmu.”
- “Ibu sebenarnya ingin ditemani ke dokter, tapi kalau kamu capek, Ibu bisa minta tolong tetangga.”
- “Tidak usah terlalu sering telepon, Nak. Ibu tahu kamu sibuk. Ibu senang kok walaupun cuma lihat foto kamu di status.”
Kalau kita telaah contoh diatas, tidak ada kalimat yang bernada membentak. Tidak ada kata kasar. Semuanya terdengar seperti biasa-biasa saja.
Tapi nadanya perlahan mengecil. Semakin lirih. Seakan ada yang ditahan agar tidak melukai kita.
Dan kalau itu terjadi, mungkin yang perlu diperbaiki bukan cara kita berbicara, bukan cara kita bersikap.
Tapi jiwa kita sendiri.



