Ketika Emas dan Batu Krosok Tak Lagi Berbeda

Ketika Emas dan Batu Krosok Tak Lagi Berbeda

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Ketika Emas dan Batu Krosok Tak Lagi Berbeda

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Emas bisa menaikkan gengsi. Batu krosok bisa terasa remeh. Tapi kapan hati kita berhenti ditentukan oleh keduanya?”

Manusia sering kali tidak sadar bahwa ia sedang ditentukan oleh benda-benda yang dimilikinya. Emas membuatnya percaya diri. Kehilangan membuatnya runtuh. Seakan-akan harga diri ikut naik turun bersama nilai materi. Padahal mungkin “kematangan ruhani” justru dimulai ketika emas dan batu krosok berhenti mengendalikan perasaan kita.

Suatu malam, di sebuah hotel mewah di Jakarta, seorang ulama terkemuka justru meminta dibelikan tikar pandan untuk tidur. Kasur empuk tersedia. Semua fasilitas serba lux. Tapi ia memilih tidur di tikar. Bukan karena anti-kenyamanan. Bukan karena anti kasur mewah. Ia sedang melatih sesuatu yang lebih dalam: kemerdekaan hati.

Dalam tradisi tasawuf, ini bukan hal asing. Al-Junayd al-Baghdadi mendefinisikan tasawuf sebagai keadaan bersama Allah tanpa keterikatan pada selain-Nya. Dunia tidak diharamkan. Emas tetap emas. Batu tetap batu. Tetapi hati tidak lagi ditarik-tarik oleh nilainya.

Artinya sederhana, meski sulit dijalani. Kita boleh bekerja keras, boleh kaya harta, punya rumah, punya kendaraan. Tetapi jangan sampai semua itu menjadi pusat rasa aman kita. Ketika rasa aman pindah ke benda atau material, di situlah kegelisahan mulai tumbuh.

Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa dunia yang tercela bukan bendanya, melainkan keterikatan hati padanya. Dunia boleh berada di tangan, tapi jangan duduk di singgasana hati. Kalau ia sudah bertakhta di sana, sedikit kehilangan saja bisa terasa seperti kiamat kecil.

Menariknya, psikologi modern menyebut fenomena serupa sebagai hedonic adaptation. Penelitian Brickman dan Campbell (1971) menunjukkan bahwa manusia cepat beradaptasi dengan kenikmatan materi. Setelah fase euforia selesai, kebahagiaan kembali ke titik semula. Lalu kita mengejar yang lebih besar lagi. Dan begitu seterusnya, selalu berulang. Seperti lari di treadmill, capek tapi tidak benar-benar maju.

Mungkin itu sebabnya di kota-kota besar Indonesia kita kerap melihat sebuah paradoks. Banyak orang tampak mapan dan berkecukupan. Pendapatan naik, rumah lebih layak, kendaraan lebih baik. Secara materi hidup memang membaik. Namun rasa gelisah tidak otomatis menghilang. Emas bisa menambah fasilitas, tetapi belum tentu menghadirkan ketenteraman.

Maka kalimat “emas dan batu krosok tak lagi berbeda” bukan ajakan hidup miskin. Ia adalah ajakan hidup merdeka. Merdeka dari rasa inferior ketika sederhana. Merdeka dari rasa superior ketika berlebih.

Barangkali manusia yang sesungguhnya bukan yang menolak emas, tetapi yang tidak lagi ditentukan olehnya. Ia bisa memakai kasur empuk atau tidur di tikar. Bisa memegang emas atau batu. Namun hatinya tetap stabil.

Dan di tengah budaya pamer dan tekanan sosial hari ini, mungkin itulah kemewahan yang paling mahal: hati yang tidak mudah dibeli.


Referensi

Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic relativism and planning the good society. In M. H. Appley (Ed.), Adaptation-level theory: A symposium (pp. 287–302). Academic Press.



Scroll to Top