Jangan Mimpi - Membangun Tim itu Sulit

Jangan Mimpi, Menjadi Tim Itu Sulit

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Jangan Mimpi, Menjadi Tim Itu Sulit

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Tim dakwah itu bukan sekadar kumpulan orang saleh. Tanpa sistem dan akuntabilitas, ia mudah rapuh.”

Khalifah Umar bin Khattab berkata dengan lantang bahwa ia tidak akan menunjuk seseorang karena kedekatan atau sekadar reputasi, melainkan karena amanah dan kemampuannya. Ia bahkan pernah menegaskan, jika seekor keledai terperosok di Irak, ia khawatir Allah akan menanyakannya mengapa jalan itu tidak diratakan. Itu bukan kalimat pencitraan untuk dikenang, melainkan cara berpikir pemimpin yang amanah. Mungkin inilah yang membentuk karakter Khalifah Umar yang begitu jujur dan takut berlaku tidak adil. Ia sadar, kekuasaan bukan kehormatan, bukan singgasana, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanyakan satu per satu.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi…” — setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini bukan hanya tentang kepala negara atau pemimpin besar. Ia tentang budaya tanggung jawab di setiap level. Dari sini sebenarnya kita sudah diberi peringatan halus: jangan mimpi membangun tim yang kuat jika setiap orang belum siap memikul amanah dan tanggung jawab.

Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, kerja bersama sering berhenti pada pembagian tugas dalam struktur organisasi. Ada ketua, ada sekretaris, ada bendahara. Ada berbagai seksi, bidang, atau departemen. Nama tercantum rapi dalam struktur. Namun, ketika pekerjaan berjalan, yang aktif hanya sebagian. Sebagian lagi hadir seperlunya. Tidak ada yang bermaksud buruk. Tapi juga tidak ada yang benar-benar merasa harus mempertanggungjawabkan hasil bersama.

Kita sering menyebut diri sebagai tim hanya karena berada dalam satu grup atau satu organisasi. Padahal menjadi tim jauh lebih sulit daripada sekadar berkumpul. Tim menuntut kejelasan peran, keberanian untuk dikritik, dan kesediaan untuk menegur. Tanpa itu, tim sejati sulit tumbuh, yang ada hanya kerja paralel yang kebetulan terjadi di tempat yang sama.

Dalam dunia manajemen, Patrick Lencioni (2002) dalam The Five Dysfunctions of a Team menyebut lima hal yang sering membuat tim gagal. Pertama, tidak adanya kepercayaan (trust). Orang enggan terbuka tentang kelemahan atau kesalahan. Kedua, takut berbeda pendapat. Semua memilih diam agar suasana tetap terlihat harmonis. Padahal dialog dan diskusi sangat penting untuk mengembangkan metode dan cara-cara terbaik.Ketiga, komitmen yang setengah hati. Keputusan diambil, tetapi tidak benar-benar dijalankan. Keempat, enggan saling mengingatkan. Kesalahan dibiarkan agar tidak menyinggung. Kelima, hilangnya fokus pada hasil bersama, karena masing-masing lebih sibuk menjaga citra.

Nilai-nilai ini sebenarnya bukan hal baru dalam Islam. Ilmu manajemen modern hanya memberi istilah pada apa yang sudah lama diajarkan tentang amanah dan tanggung jawab. Tanpa kepercayaan, musyawarah hanya formalitas. Tanpa akuntabilitas, amanah berubah menjadi sekadar jabatan. Situasi ini sangat berat bagi hadirnya tim yang efektif.

Saya pernah melihat sebuah kegiatan besar dengan susunan kepanitiaan yang mengesankan. Harusnya tim ini dapat bekerja efektif. Namun, saat hari pelaksanaan tiba, yang benar-benar bekerja mungkin hanya setengahnya. Yang lain datang, berfoto, lalu menghilang. Disini tidak ada yang jahat. Tapi juga tidak ada pula budaya untuk evaluasi,  saling memastikan tugas selesai. Di akhir acara, yang tersisa bukan rasa bangga, melainkan lelah yang diam-diam menumpuk.

Di sinilah kita perlu tegas. Tim yang hanya berisi orang baik, tetapi tanpa sistem yang jelas, sering kali hanya menghasilkan kelelahan bersama. Keikhlasan tidak otomatis melahirkan efektivitas. Semangat (ghirah) tidak otomatis menghasilkan hasil.

Kalau kita ingin sungguh-sungguh membangun tim yang handal, mulailah dari trust yang nyata. Berani mengakui kekurangan dan meminta bantuan. Beri ruang diskusi dan perbedaan pendapat, karena konflik yang sehat lebih jujur daripada kesepakatan yang dipaksakan. Setelah keputusan diambil, pegang bersama amanah tanpa agenda tersembunyi. Biasakan saling mengingatkan dengan cara yang santun dan bermartabat. Dan ukur hasilnya, ukur dampaknya, bukan hanya aktivitasnya.

Khalifah Umar bin Khattab tidak membangun sistem dengan sekadar memilih orang-orang baik. Ia memilih orang yang tepat, memberi peran yang jelas, lalu memastikan setiap amanah diawasi. Ia tahu, tanpa pertanggungjawaban, struktur menjadi rapuh dan tidak efektif.

Jadi sebelum kita percaya diri menyebut diri sebagai tim, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur: apakah setiap orang di dalamnya benar-benar siap dimintai pertanggungjawaban?

Kalau belum, jangan mimpi. Menjadi tim itu memang sulit.

Stay Relevant!


Referensi

Lencioni, P. (2002). The five dysfunctions of a team: A leadership fable. Jossey-Bass.



Scroll to Top