Bunuh Diri di NTT

Bunuh Diri di NTT: Kisah Anak yang Kehabisan Cara untuk Mengatakan, “Aku Butuh Tolong”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bunuh Diri di NTT:
Kisah Anak yang Kehabisan Cara untuk Mengatakan, “Aku Butuh Tolong”

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Ia bukan ingin pergi. Ia hanya kehabisan cara meminta tolong. Tragedi seorang anak di NTT memaksa kita bertanya: seberapa peka kita mendengar yang diam?”

Kasus bunuh diri di NTT mencengangkan kita semua. Bukan hanya karena korbannya seorang anak berusia 10 tahun, tetapi karena penyebabnya terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari: buku tulis, pulpen, dan rasa tidak enak hati kepada orang tua. Sesuatu yang bagi banyak orang tampak sepele, tapi bagi seorang anak bisa berubah menjadi beban besar yang bisa menghimpit.

Peristiwa ini membuat kita berhenti sejenak. Ada rasa tak percaya, lalu muncul pertanyaan: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan cara kita hidup bersama? Mengapa kebutuhan kecil bisa berubah menjadi tragedi besar? Dan mengapa semua ini terasa seperti datang tiba-tiba, padahal bisa jadi fenomena ini sudah lama berlangsung, mungkin juga di tempat lain.

Saya ingin menegaskan sejak awal, sebagai pemerhati masalah sosial: ini bukan kisah tentang anak yang lemah atau tidak tahu bersyukur. Anak usia 10 tahun belum memiliki kematangan emosi untuk memahami kematian sebagai pilihan rasional. Yang ada adalah tindakan putus asa, ekspresi kebingungan ekstrem dari tekanan yang tidak ia pahami sepenuhnya, bahkan bisa jadi ia tidak mampu untuk menjelaskan dengan kata-kata.

Dalam kajian psikologi, ada satu penjelasan yang terasa sangat relevan. Dorongan bunuh diri sering muncul bukan karena seseorang ingin mati, melainkan karena ia merasa menjadi beban dan tidak punya tempat aman untuk diterima. Pada orang dewasa, perasaan itu bisa muncul lewat konflik kerja atau relasi. Pada anak miskin, perasaan itu bisa muncul dari situasi yang sangat sederhana: ingin belajar, tapi bingung karena orang tua tidak mampu.

Di benak anak, kebutuhan perlahan berubah menjadi rasa bersalah. Keinginan untuk sekolah bergeser menjadi perasaan merepotkan. Ia tidak sedang membenci hidup. Ia hanya mencoba mengurangi beban orang-orang yang ia cintai, namun dengan cara yang tragis dan keliru.

Kasus ini tidak berdiri di satu sisi saja. Membacanya hanya dari psikologi akan terasa terlalu sempit. Sejak lama sosiologi mengingatkan bahwa bunuh diri bukan sekadar urusan pribadi, melainkan tanda bahwa ikatan sosial kita sedang rapuh.

Émile Durkheim menyebut bunuh diri sebagai fakta sosial. Ia muncul ketika masyarakat menuntut, tetapi sistem sosial gagal menopang. Norma ada, kewajiban jelas, tetapi perlindungan nyaris tak terasa. Dunia seperti meminta seseorang untuk terus berjalan, tanpa menyediakan pagar pengaman di tepi jurang.

Anak di NTT itu hidup tepat di persimpangan itu. Sekolah menuntut perlengkapan belajar. Keluarga ingin mendukung, tapi terhimpit masalah ekonomi. Lingkungan terbiasa dengan kekurangan, sehingga kekurangan tak lagi dianggap darurat. Negara hadir lewat aturan dan laporan, namun kehadiran itu kerap tidak dirasakan anak sebagai penopang nyata ketika ia menghadapi kesulitan sehari-hari.

Dalam kondisi seperti ini, kekerasan struktural muncul. Tidak ada pukulan dan tidak ada ancaman langsung. Namun sistem secara perlahan menutup pilihan-pilihan hidup seorang anak, sampai ia merasa tidak punya jalan lain selain menghilang.

Yang membuatnya lebih menyedihkan, pola seperti ini, bisa jadi bukan kejadian tunggal. Ia berlangsung lama dan kerap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak miskin belajar sejak dini untuk menekan keinginan, menahan keluhan, dan “mengerti keadaan”. Dalam proses itu, sekolah—yang seharusnya menjadi ruang aman—sering kali tanpa disadari ikut memperkuat rasa malu dan rendah diri.

Maka pelajaran terpenting dari tragedi ini bukan sekadar soal bantuan atau retorika keprihatinan. Yang lebih mendesak adalah membangun ulang kepekaan kita dalam mendengar. Anak-anak, terutama dari keluarga miskin, sering tidak punya kosakata untuk menjelaskan penderitaan mereka. Mereka tidak berteriak. Mereka diam. Dan diam itulah yang terlalu sering kita abaikan.

Anak itu tidak pergi karena ingin pergi. Ia pergi karena kehabisan cara untuk mengatakan, “Please help me. Aku butuh tolong.” Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang dirinya, melainkan tentang kita semua: berapa banyak anak lain yang hari ini, di tahun 2026 ini, memendam kalimat yang sama, sementara kita masih merasa semuanya baik-baik saja?

Dalam pandangan Islam, anak itu bukan pendosa, melainkan korban dari amanah yang runtuh. Ia tidak menolak rahmat Allah, tetapi hidup tanpa sempat merasakannya hadir lewat kepedulian manusia di sekitarnya.

Jika ada yang harus kita takutkan, bukanlah murka Allah pada anak itu. Yang patut kita renungkan adalah murka Allah pada masyarakat yang gagal menjadi rahmat bagi yang paling lemah.

Karena Rasulullah ﷺ tidak pernah dikenal sebagai nabi yang menghitung dosa anak-anak, melainkan sebagai nabi yang menangis ketika melihat penderitaan mereka.

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil…” (HR. Tirmidzi, hasan sahih).

Dan di situlah, sesungguhnya, Islam berdiri.



Scroll to Top