• +62-8123070905
  • sdmindonesia.info@gmail.com

Daily Archive May 12, 2020

depresiasi-penurunan-nilai-dan-deplesi

Akuntansi Keuangan: Depresiasi, Penurunan Nilai, dan Deplesi

“Depresiasi, Penurunan Nilai, dan Deplesi”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Seiring dengan berjalannya waktu, aset tetap akan mengalami penyusutan (kecuali tanah).

Faktor yang mempengaruhi menurun kemampuan suatu aset tetap untuk memberikan jasa/manfaaat yaitu : secara fisik, disebabkan oleh pemakaian dan keausan karena penggunaan yang berlebihan dan secara fungsional, disebabkan oleh ketidakcukupan kapasitas yang tersedia dengan yang diminta (misal kemajuan teknologi).

Sehingga penurunan kemampuan aset tetap tersebut dapat dialokasikan sebagai biaya. Masalah pengalokasian biaya penyusutan merupakan masalah penting, karena mempengaruhi laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.

Apabila menggunakan metode penyusutan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku atau kondisi perusahaan tersebut,  maka akan mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan setiap periode akuntansi. 

Selain itu juga mempengaruhi nilai dari aset tetap tersebut. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Depresiasi, Penurunan Nilai, dan Deplesi.

Silahkan diunduh file PowerPoint (PDF) berikut:

_______________________

Belajar mudah dengan PowerPoint:

PPT Depresiasi, Penurunan Nilai, dan Deplesi

IG: SDM Unggul Indonesia Maju

_______________________

Poin-poin penting bab ini

Depresiasi/ Penyusutan

Penyusutan/ depresiasi adalah proses akuntansi untuk mengalokasikan biaya aset berwujud menjadi biaya secara sistematis dan rasional terhadap periode yang diharapkan dapat memanfaatkan penggunaan aset tersebut. Mengalokasikan biaya aset berumur panjang:

  • Aset tetap: Beban depresiasi/ penyusutan
  • Tidak berwujud: biaya amortisasi
  • Sumber daya mineral: Biaya deplesi
Tiga pertanyaan dasar:
  1. Dasar penyusutan apa yang digunakan?
  2. Berapakah masa manfaat aset?
  3. Apa metode pembagian biaya yang terbaik?
Metode Penyusutan

Profesi ini mengharuskan metode yang digunakan menjadi “sistematis dan rasional.” Metode yang digunakan meliputi:

  1. Metode aktivitas (unit penggunaan atau produksi).
  2. Metode garis lurus.
  3. Mengurangi (dipercepat) metode pengisian:
    • Jumlah angka tahun.
    • Metode saldo menurun.
Masalah Khusus Penyusutan
  1. Bagaimana seharusnya perusahaan menghitung depresiasi untuk periode parsial?
    • Perusahaan menentukan biaya penyusutan untuk setahun penuh dan kemudian
    • Perbaiki biaya penyusutan ini antara dua periode yang terlibat. (Proses ini harus berlanjut sepanjang masa manfaat aset).
  1. Apakah depresiasi memberi penggantian aset?
    • Tidak melibatkan arus kas keluar.
    • Dana untuk penggantian aset berasal dari pendapatan
  1. Bagaimana seharusnya perusahaan menangani revisi dalam tingkat depresiasi?
    • Diperuntukkan dalam periode sekarang dan prospektif
    • Tidak ditangani secara retrospektif.
    • Tidak dianggap kesalahan atau barang luar biasa.
Penurunan Nilai

Aset berwujud berumur panjang mengalami penurunan nilai bila perusahaan tidak dapat memulihkan nilai tercatat aset baik melalui penggunaan atau dengan menjualnya.

Secara tahunan, perusahaan meninjau aset untuk indikator penurunan nilai yaitu, penurunan kemampuan menghasilkan uang tunai melalui penggunaan atau penjualan.

Deplesi

Deplesi merupakan proses pengalokasian biaya sumber daya mineral. Sumber daya alam dapat dibagi menjadi dua kategori:

  1. Aset biologis (lahan hutan)
    • Pendekatan nilai wajar
  2. Sumber daya mineral (pertambangan minyak, gas, dan mineral)).
    • Penghapusan lengkap (konsumsi) aset.
    • Penggantian aset hanya dengan tindakan alam.

Baca juga: Aset Tidak Berwujud

Demikian poin-poin singkat, untuk materi selanjutnya mengenai Depresiasi, Penurunan Nilai, dan Deplesi, bisa di download ppt pada link diatas.

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

_____________________

SDMIndonesia.com

Explore: Training & Development

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Akuntansi Aset Tidak Berwujud

Akuntansi Keuangan: Aset Tidak Berwujud

“Akuntansi Keuangan: Aset Tidak Berwujud”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Aset yang dimiliki perusahaan dalam menjalankan bisnisnya tidak selalu memiliki wujud fisik yang bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Jenis aset ini bernama Aset tak berwujud (Intangible Asset). PSAK 19 mendefinisikan Aset tak berwujud sebagai aset non-moneter yang teridentifikasi tanpa wujud fisik.

Dikategorikan sebagai aset Non-moneter karena mengandung nilai yang tidak pasti di masa mendatang. Berikut penjelasan mengenai Aset Tidak Berwujud.

Silahkan diunduh file PowerPoint (PDF) berikut ini:

____________________________

PPT Aset Tidak Berwujud

IG: SDM Unggul Indonesia Maju

____________________________

Berikut poin-poin:

Karakteristik Aset Tidak Berwujud
  1. Dapat diidentifikasi
  2. Kurangnya eksistensi fisik.
  3. Bukan aset moneter.

Biasanya diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar. Jenis-jenis aset tak berwujud yaitu paten, hak cipta, waralaba atau lisensi, merek dagang atau nama dagang, daftar pelanggan, dan goodwill.

Penilaian Aset Tidak Berwujud yang Dibeli
  • Dicatat dengan biaya.
  • Meliputi semua biaya perolehan ditambah pengeluaran untuk membuat aset tak berwujud siap untuk tujuan penggunaannya.
  • Biaya tipikal termasuk :
    • Harga pembelian.
    • Biaya hukum
    • Beban insidental lainnya.
Penilaian Aset Tak Berwujud yang Dibangun Internal
  • Perusahaan membebankan semua biaya tahap penelitian dan beberapa biaya tahap pengembangan.
  • Biaya pengembangan tertentu dikapitalisasi setelah kriteria kelayakan ekonomi terpenuhi.
  • IFRS mengidentifikasi beberapa kriteria spesifik yang harus dipenuhi sebelum biaya pengembangan dikapitalisasi
Amortisasi Aset Tidak Berwujud dengan Umur Terbatas

Amortisasi dengan biaya sistematis untuk biaya selama masa manfaat.

  • Akun aset kredit atau akumulasi amortisasi.
  • Kehidupan yang berguna harus mencerminkan periode dimana aset tersebut akan berkontribusi terhadap arus kas.
  • Amortisasi harus biaya dikurangi nilai residu.
  • Perusahaan harus mengevaluasi tak berwujud kehidupan sehari-hari untuk penurunan nilai.
Amortisasi Aset Tidak Berwujud dengan Umur Tidak Terbatas
  • Tidak dapat diperkirakan batas waktu aset diharapkan menghasilkan arus kas.
  • Harus menguji penurunan nilai aset tidak berwujud dengan umur tidak terbatas setidaknya setiap tahunnya.
  • Tidak ada amortisasi.
Penurunan Nilai Aset Tidak Berwujud Umur Terbatas

Kerugian penurunan nilai adalah nilai tercatat aset dikurangi jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset yang mengalami penurunan nilai.

Penurunan Nilai Aset Tak Berwujud Tak Terbatas Selain Goodwill
  • Harus diuji untuk penurunan nilai setidaknya setiap tahunnya.
  • Uji penurunan nilai sama dengan itu untuk kehidupan yang tidak berwujud. Itu adalah,
    • Membandingkan jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset tak berwujud dengan nilai tercatat aset.
    • Jika jumlah terpulihkan kurang dari nilai tercatat, perusahaan mengakui adanya penurunan nilai.
Penurunan Nilai Goodwill
  • Perusahaan harus menguji goodwill setidaknya setiap tahun.
  • Uji penurunan dilakukan berdasarkan unit penghasil kas dimana goodwill ditetapkan.
  • Unit penghasil kas: kelompok aset terkecil yang dapat diidentifikasi yang menghasilkan arus kas.
  • Karena jarang ada pasar untuk unit penghasil kas, estimasi jumlah terpulihkan untuk penurunan goodwill biasanya didasarkan pada estimasi nilai dalam penggunaan.

Untuk poin-poin selanjutnya mengenai Aset Tidak Berwujud, bisa di download ppt pada link diatas.

Demikian uraian poin-poin Akuntansi Aset Tidak Berwujud. Semoga bermanfaat, dan salam sukses SDM Indonesia.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

______________________

SDMIndonesia.com

Explore: Training & Development

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training