• +08123070905
  • sdmindonesia.info@gmail.com

Persediaan – Bagian 2

Persediaan – Bagian 2

Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual. Dapat disimpulkan bahwa Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan bangunan. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Persediaan – Bagian 2.

Lower of Cost or Net Realizable Value (LCNRV)

Sebuah perusahaan meninggalkan prinsip biaya historis ketika utilitas masa depan (menghasilkan pendapatan) dari aset turun di bawah biaya awalnya. Nilai Realisasi Bersih (Net Realizable Value) merupakan perkiraan harga jual dalam kegiatan usaha normal dikurangi estimasi biaya untuk menyelesaikan dan estimasi biaya untuk menjual.

 

Metode Penerapan LCNRV

Dalam kebanyakan situasi, harga persediaan perusahaan berdasarkan item per item. Aturan pajak di beberapa negara mewajibkan perusahaan menggunakan basis item individual. Pendekatan item individual memberikan penilaian terendah untuk laporan posisi keuangan. Metode harus diterapkan secara konsisten dari satu periode ke periode lainnya.

  • Menggunakan Penyisihan

Dalam mengkredit akun persediaan untuk penyesuaian nilai realisasi bersih, perusahaan umumnya menggunakan rekening penyisihan.

  • Pemulihan Kerugian Persediaan

Jumlah yang dihitung adalah terbalik. Pembalikan terbatas pada jumlah penulisan asli.

 

Evaluasi Aturan LCM

Aturan LCNRV mengalami beberapa defisiensi konseptual:

  1. Perusahaan mengakui penurunan nilai aset dan biaya atas biaya pada periode di mana kerugian dalam utilitas terjadi-tidak pada periode penjualan.
  2. Penerapan aturan tersebut mengakibatkan ketidakkonsistenan karena perusahaan dapat menilai persediaan dengan biaya satu tahun dan pada nilai realisasi bersih di tahun depan.
  3. LCNRV menilai persediaan dalam laporan posisi keuangan secara konservatif, namun pengaruhnya terhadap laporan laba rugi mungkin atau mungkin tidak konservatif. Laba bersih untuk tahun di mana perusahaan mengambil kerugian pasti lebih rendah. Laba bersih periode berikutnya mungkin lebih tinggi dari biasanya jika penurunan harga penjualan yang diharapkan tidak terwujud.

 

Kondisi Penilaian Khusus

Berangkat dari peraturan LCNRV dapat dibenarkan dalam situasi berikut

  1. Biaya sulit untuk ditentukan,
  2. Barang dapat dijual dengan harga pasar yang dikutip, dan
  3. Unit produk dapat saling dipertukarkan.

Dua situasi umum dimana NRV adalah peraturan umum:

1.Aset agrikultur

Aset biologis (tergolong aset tidak lancar) adalah hewan atau tumbuhan hidup, seperti domba, sapi, pohon buah-buahan, atau tanaman kapas.

  • Diukur pada pengakuan awal dan pada akhir setiap periode pelaporan dengan nilai wajar dikurangi biaya jual (NRV).
  • Perusahaan mencatat keuntungan atau kerugian akibat perubahan NRV aset biologis dalam pendapatan saat terjadi.

Hasil pertanian adalah hasil panen dari aset biologis, seperti wol dari seekor domba, susu dari sapi perah, mengambil buah dari pohon buah, atau kapas dari tanaman kapas.

  • Diukur dengan nilai wajar dikurangi biaya jual (NRV) pada saat panen.
  • Setelah dipanen, NRV menjadi biaya.

2.Komoditas dipegang oleh broker-trader

Umumnya mengukur persediaan mereka dengan nilai wajar dikurangi biaya menjual (NRV), dengan perubahan NRV diakui dalam pendapatan pada periode perubahan.

  • Membeli atau menjual komoditas (seperti jagung hasil panen, gandum, logam mulia, minyak pemanas).
  • Tujuan utamanya adalah untuk menjual komoditas dalam waktu dekat dan menghasilkan keuntungan dari fluktuasi harga.

 

Metode Laba Kotor (Gross Profit)

Bergantung pada tiga asumsi:

  1. Persediaan awal ditambah pembelian total barang yang sama untuk diperhitungkan.
  2. Barang yang tidak dijual harus di tangan.
  3. Penjualan, dikurangi biaya, dikurangkan dari jumlah persediaan pembukaan ditambah pembelian, persediaan akhir yang sama.

Kekurangan:

  • Menyediakan perkiraan persediaan akhir.
  • Menggunakan persentase masa lalu dalam perhitungan.
  • Tingkat laba kotor rata-rata mungkin tidak mewakili.
  • Biasanya tidak dapat diterima untuk tujuan pelaporan keuangan karena hanya menyediakan perkiraan.

IFRS memerlukan persediaan fisik sebagai verifikasi tambahan persediaan yang ditunjukkan dalam catatan.

 

Metode Retail

Digunakan oleh pengecer untuk menyusun persediaan dengan harga eceran. Pengecer dapat menggunakan formula untuk mengubah harga eceran menjadi biaya. Memerlukan pengecer untuk menyimpan catatan:

  • Total biaya dan nilai eceran barang yang dibeli.
  • Total biaya dan nilai eceran barang yang tersedia untuk dijual.
  • Penjualan untuk periode tersebut.

Digunakan untuk alasan berikut:

  • Mengharuskan perhitungan laba bersih tanpa hitungan persediaan secara fisik.
  • Ukuran kontrol dalam menentukan kekurangan persediaan.
  • Mengatur jumlah barang dagangan di tangan.
  • Informasi asuransi.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Persediaan – Bagian 2, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Persediaan – Bagian 2

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

hasan100

Leave a Reply