• +08123070905
  • sdmindonesia.info@gmail.com

Blog

Piutang

Piutang merupakan salah satu unsur dari aktiva lancar dalam neraca perusahaan yang timbul akibat adanya penjualan barang,  jasa atau pemberian kredit terhadap debitur yang pembayaran pada umumnya diberikan dalam tempo 30 hari sampai dengan 90 hari. Pada umumnya piutang timbul akibat dari transaksi penjualan barang dan jasa perusahaan, di mana pembayaran oleh pihak yang bersangkutan baru akan dilakukan setelah tanggal transaksi jual beli. Mengingat piutang merupakan harta perusahaan yang sangat penting, maka harus dilakukan prosedur yang wajar dan cara-cara yang memuaskan dengan para debitur sehingga perlu disusun suatu prosedur yang baik demi kemajuan perusahaan. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Piutang.

Pengertian Piutang

Piutang (recievable) adalah mencakup seluruh uang yang diklaim terhadap entitas lain, termasuk  perorangan, perusahaan , dan organisasi lain.

Klasifikasi Piutang
  • Piutang Usaha—digunakan untuk penjualan barang dagang secara kredit, dan biasanya diperkirakan akan diterima dalam periode waktu yang relatif pendek.
  • Wesel Tagih—digunakan untuk memberikan kredit berdasarkan instrumen kredit resmi, yang disebut wesel promes.
  • Piutang Lain-lain—meliputi piutang bunga, piutang pajak, dan piutang dari pejabat atau karyawan perusahaan.

Pengendalian Internal Piutang
  • Pemisahan fungsi penanganan transaksi penjualan dari fungsi akuntansi piutang dagang.
  • Pemisahan fungsi akuntansi piutang dari fungsi penerimaan tagihan piutang.
  • Semua transaksi pemberian kredit, potongan, penghapusan piutang harus persetujuan pejabat berwenang.
  • Piutang dicatat dalam account receivable subsidiary ledger.
  • Pembuatan Daftar piutang berdasarkan umur (aging Schedule).

Piutang Tak Tertagih

Perusahaan sering kali menjual piutangnya ke perusahaan lain.  Transaksi ini disebut sebagai transaksi anjak piutang, dan pembeli dari piutang disebut perusahaan anjak piutang. Terdapat dua metode akuntansi untuk piutang tak tertagih:

  1. Metode penghapusan langsung (direct write of methode) mencatat beban piutang tak tertagih hanya pada saat suatu piutang, dianggap benar-benar tak tertagih. Piutang yang terbukti tidak tertagih dihapus pada tahun piutang tersebut diputuskan tidak tertagih. Beban Piutang Tak Tertagih didebit dan Piutang Usaha dikredit untuk masing-masing transaksi semacam itu.
  2. Metode penyisihan (allowance methode) mencatat beban piutang tak tertagih dengan mengestimasi jumlah piutangt ak tertagih pada akhir periode akuntansi. Manajemen membuat estimasi setiap tahunnya mengenai berapa besar porsi piutang usaha yang mungkin tak tertagih. Beban Piutang Tak Tertagih didebit dan Penyisihan Piutang Tak Tertagih dikredit. Piutang yang ternyata benar-benar tak dapat ditagih didebit ke Penyisihan Piutang Tak Tertagih dan dikredit ke Piutang Usaha. Metode penyisihan menggunakan dua cara untuk mengestimasikan jumlah yang didebit ke Beban Piutang Tak Tertagih, yaitu:
  • Estimasi berdasarkan persentase penjualan.

Jika penjualan kredit untuk periode tersebut sebesar $300.000 dan diestimasikan bahwa 1% akan tidak tertagih, Beban Piutang Tak Tertagih adalah sebesar $3.000.

  • Estimasi berdasarkan analisis piutang .

Jika diestimasikan bahwa piutang sebesar $3.390 akan tidak tertagih dan Akun Penyisihan Piutang Tak Tertagih saat ini memiliki saldo $510, Beban Piutang Tak Tertagih harus didebit sebesar $2.880 ($3.390 – $510).

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Piutang, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Piutang

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Aset Tidak Berwujud

Aset yang dimiliki perusahaan dalam menjalankan bisnisnya tidak selalu memiliki wujud fisik yang bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Jenis aset ini bernama Aset tak berwujud (Intangible Asset). PSAK 19 mendefinisikan Aset Takberwujud sebagai aset non-moneter yang teridentifikasi tanpa wujud fisik. Dikategorikan sebagai aset Non-moneter karena mengandung nilai yang tidak pasti di masa mendatang. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Aset Tidak Berwujud.

Aset Tidak Berwujud

Aset tidak berwujud Merupakan aset non moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik. Syarat identifikasi:

  • Dapat dipisahkan dari aset lainnya atau terbagi terpisah atau dapat dijual, dialihkan, dilisensikan, disewakan atau ditukarkan baik invidual atau bersama.
  • Muncul dari hak kontraktual atau hak hukum lainnya
Jenis Aset Tidak Berwujud
  • Hak Paten (Patent), yaitu merupakan hak yang diberikan kepada pihak yang menemukan sesuatu hal baru ttg suatu produk, dan pemilik Hak Paten dapat membuat, menjual atau mengawasi penemuannya selama jangka waktu tertentu sesuai dengan Undang Undang. Contoh : penemuan suatu formula pembuatan Mesin Penghemat Bahan Bakar
  • Copy Rights (Hak Cipta), yaitu merupakan hak yang diberikan kepada pengarang atau pemain (artis/aktor) untuk menerbitkan, menjual atau mengawasi karya ciptanya selama jangka waktu tertentu sesuai Undang Undang. Contoh : Disertasi
  • Merk Dagang (Trademark), yaitu merupakan hak yang diberikan kepada pihak untuk menggunakan suatu merk dagang dan hal tersebut bisa juga diperoleh dari pembelian kepada pihak lain atau milik sendiri dan dilindungi oleh Undang Undang. Contoh : Minyak Gosok Merk TAWON
  • Waralaba (Franchise), yaitu merupakan hak yang diberikan pihak tertentu untuk menggunakan fasilitas yang dimiliki oleh Pemilik (franchisor) dengan suatu perjanjian antara kedua belah pihak untuk jangka waktu tertentu dan dilindungi oleh Undang Undang. Contoh : KFC, Mc Donald, Indomaret
  • Royalti (Royalty), yaitu merupakan hak yang diberikan kepada pihak untuk menggandakan, memperbanyak atau menyebarluaskan suatu karya cipta dan pihak yang menerima hak harus membayar sejumlah nilai tertentu kepada pemilik hak atau ahli warisnya sesuai dengan perjanjian antara kedua belah pihak dan dilindungi oleh Undang Undang. Contoh : Penggandaan lagu2 karya John Lennon
  • Nama Baik (Goodwill), yaitu hak yang diberikan kepada pihak atas manfaat yang diterima dan atas hal tersebut menimbulkan keuntungan bagi perusahaan, terutama dalam transaksi penggabungan usaha, reorganisasi, perubahan bentuk perusahaan, pembelian sebagian perusahaan dan hal tersebut dilindungi oleh Undang Undang.

Pengakuan
  • Dapat diakui jika memenuhi prinsip pengakuan.
  • Pada saat perolehan diukur pada biaya perolehannya.
  • Aset tidak berwujud dihasilkan secara internal tidak diakui dan pengeluaran tersebut dicatat sebagai beban.
  • Pengeluaran yang awalnya diakui sebagai beban tidak boleh diakui sebagai bagian perolehan aset tidak berwujud dikemudian hari.
  • Setelah perolehan diukur pada nilai perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan rugi penurunan nilai.

Pencatatan
  • Pembelian : dicatat sebesar nilai beli dan biaya2 lain sampai dengan aset tersebut dapat digunakan.
  • Pertukaran : dicatat sebesar market value (Harga Pasar) Aset yang dijadikan dasar pertukaran.
  • Penemuan : dicatat sebesar nilai yang dikeluarkan beserta biaya perijinan sampai dengan aset tersebut dapat digunakan.
  • Bila dalam prosesnya Aset tersebut tidak dikeluarkan biaya maka tidak dapat dicatat dalam Laporan Keuangan.

Amortisasi

Amortisasi adalah jumlah biaya aset tidak berwujud yang ditransfer ke beban. Aset tidak berwujud tidak memiliki atribut fisik dan tidak untuk dijual (paten, hak cipta, dan goodwill).

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Aset Tidak Berwujud, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Aset Tidak Berwujud

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Kewajiban Lancar

Di era globalisasi seperti sekarang ini, keadaan situasi perekonomian yang terjadi pada saat ini menuntut perusahaan untuk melaksanakan operasi perusahaan secara efektif dan efisien. Kewajiban merupakan kemungkinan pengorbanan masa depan atas manfaat ekonomi yang muncul. Karena kewajiban melibatkan pengeluaran aktiva atau jasa di masa depan, Kewajiban yang jatuh tempo saat ini harus diselesaikan secara tepat waktu. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Kewajiban Lancar.

Pengertian

Merupakan kewajiban untuk dibayar. Kewajiban jangka pendek/lancar merupakan kewajiban yang akan dibayar dari aset lancar dalam waktu singkat (1 tahun). Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban dengan periode jatuh tempo lebih dari satu tahun.

Jenis Kewajiban Lancar
  • Utang usaha
  • Bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam jangka pendek
  • Utang pajak
  • Wesel bayar
  • Utang beban
  • Pendapatan diterima dimuka
  • Utang bunga
  • Utang gaji

Contoh Wesel Bayar

Perusahaan menerbitkan wesel bayar 90 hari, bunga 12% sebesar Rp. 1.000.000 tertanggal 1 Agustus guna membayar utang usaha yang jatuh tempo.

Jurnal 1 Agustus:

(D) Utang usaha 1000.000

(K) Wesel bayar       1.000.000

Jurnal saat jatuh tempo:

(D) Wesel bayar  Rp. 1000.000

(D) Beban bunga Rp.     30.000

(K) Kas                         Rp.   1.030.000

Contoh Utang Pajak

Penjualan pada restoran Mc Donald’s berjumlah Rp. 100.000 dan tambahan pajak penjualan sebesar 5%.

Jurnal untuk mencatat transaksi diatas yaitu:

(D) Kas             Rp. 105.000

(K) Penjualan        Rp. 100.000

(K) Utang PPN       Rp.     5.000

Penggajian

Dibayarkan kepada karyawan merupakan beban kerja perusahaan. Komponen gaji yaitu:

  • Upah pokok
  • Upah lembur
  • Dll

Tunjangan-tunjangan karyawan yaitu sebagai berikut:

  • Tunjangan Cuti
  • Pensions, yaitu kas yang dibayarkan kepada karyawan yang telah pension.
  • Tunjangan Pasca Pensiun, yaitu tunjangan yang diberikan berupa perawatan gigi, perawatan mata, perawatan kesehatan, asuransi jiwa, bantuan biaya kuliah, pelayanan pajak, dan jasa-jasa hukum.
  • Program Pensiun Iuran Pasti, yaitu merupakan program yang mengharuskan pemberi kerja menginvestasikan uang dalam jumlah tetap atas nama karyawan selama masa kerja karyawan. Besarnya uang pensiun di masa depan tidak pasti.
  • Pensiun Imbalan Pasti, merupakan program dimana pemberi kerja mungkin menjanjikan pembayaran manfaat pensiun yang tetap setiap tahunnya kepada karyawan yang telah pensiun berdasarkan lamanya masa kerja dan jabatan karyawan.

Potongan atas penghasilan karyawan yaitu:

  • Jaminan hari tua
  • Jaminan pemeliharaan kesehatan
  • Pajak penghasilan
  • Potongan lain-lain

Kewajiban perusahaan terkait penggajian yaitu Jaminan hari tua, Jaminan kecelakaan kerja, dan Jaminan kematian.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Kewajiban Lancar, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Kewajiban Lancar

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Surat-Surat Berharga

Surat Berharga adalah istilah umum di dalam dunia keuangan yang menunjukkan bukti (dapat berupa selembar kertas) hak investor (yaitu pihak yang memiliki surat berharga tersebut) untuk mendapatkan hak tertentu atas kepemilikan  surat berharga. Hak atas kepemilikan tersebut dapat berbentuk macam-macam, misalnya hak untuk mendapatkan bagian tertentu atas kekayaan pihak yang menerbitkan surat berharga tersebut (umumnya surat berharga diterbitkan oleh perusahaan). Dikatakan berharga, karena surat tersebut memiliki nilai ekonomis dan dapat diperjualbelikan pada tingkat harga tertentu sehingga seorang pemegang surat berharga dapat memperoleh keuntungan atas jual beli surat berharga tersebut. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Surat-Surat Berharga.

Karakteristik Surat Berharga
  • Merupakan bentuk penyertaan sementara atau investasi jangka pendek dalam rangka memanfaatkan dana yang menganggur.
  • Mempunyai pasar / dapat diperjualbelikan.
  • Pemilikan surat berharga tidak dengan maksud menguasai perusahaan lain.
  • Memanfaatkan dana surplus. Surat Berharga akan dijual kembali jika dana dibutuhkan untuk kegiatan perusahaan.
  • Menghasilkan pendapatan.

Jenis Surat Berharga
  • Saham
  • Obligasi

Transaksi Surat Berharga
  • Pembelian

Pembelian dicatat sebesar harga perolehan. Harga perolehan dihitung sebagai berikut:

Harga Perolehan = harga beli + semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh surat berharga (komisi, fee, biaya transaksi)

Jurnal untuk mencatat transaksi pembelian adalah sebagai berikut:

(D) Surat berharga      XXX

(K) Kas                                     XXX

  • Penerimaan Pendapatan

Saham

Jenis pendapatan untuk saham adalah berupa dividen. Jurnal yang digunakan untuk mencatat penerimaan dividen adalah sebagai berikut:

(D) Kas                                     XXX

(K) Pendapatan dividen                       XXX

Obligasi

Jenis pendapatan untuk saham adalah berupa bunga. Jurnal yang digunakan untuk mencatat penerimaan bunga atas obligasi adalah sebagai berikut:

(D) Kas                                     XXX

(K) Pendapatan bunga                        XXX

  • Penjualan Surat Berharga

Jika perusahaan melakukan penjualan surat berharga dan mendapatkan laba, maka akan dijurnal sebagai berikut:

(D) Kas                                                 XXX

(K) Surat berharga                              XXX

(K) Laba Penjualan Surat Berharga    XXX

Namun, jika perusahaan melakukan penjualan surat berharga dan mengalami rugi atas penjualan surat berharga, maka akan dijurnal sebagai berikut:

(D) Kas                                                 XXX

(D) Rugi Penjualan Surat Berharga    XXX

(K) Surat berharga                              XXX

Bunga Berjalan

Jika transaksi terjadi antara tanggal pembayaran bunga, maka ada bunga berjalan. Bunga berjalan dihitung dari tanggal pembayaran bunga sebelum transaksi. Pencatatan bunga berjalan terdapat 2 pendekatan, yaitu:

  • Pendekatan Neraca.

Jika dalam pencatatan bunga berjalan menggunakan pendekatan neraca, maka bunga berjalan akan dicatat dengan menggunakan akun Piutang Bunga.

  • Pendekatan Laba Rugi (L/R)

Jika dalam pencatatan bunga berjalan menggunakan pendekatan laba rugi (L/R), maka bunga berjalan akan dicatat dengan menggunakan akun Pendapatan Bunga.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Surat-Surat Berharga, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Surat-Surat Berharga

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Aset Tetap – Bagian 2

Aset merupakan hal terpenting dalam sebuah perusahaan. Asset adalah salah satu akun dalam sebuah laporan keuangan, yaitu pada laporan posisi keuangan. Aset terbagi menjadi dua yaitu aset lancar dan aset tetap. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Aset Tetap – Bagian 2.

Belanja Modal (Capital Expenditure)

Pengeluaran yang dilakukan untuk mengakuisisi aset tetap baru dikenal sebagai belanja modal (capital expenditure).

Belanja Pendapatan (Revenue Expenditure)

Pengeluaran untuk memperbaiki atau memelihara aset tetap yang tidak memperpanjang umur manfaatnya atau meningkatkan nilainya dikenal sebagai belanja pendapatan (revenue expenditure).

Akuntansi Pelepasan Aset Tetap

Ketika aset tetap kehilangan kegunaannya, aset tersebut dapat dilepas melalui salah satu cara berikut:

  • Dibuang,
  • Dijual, atau
  • Ditukar tambah dengan aset serupa.

Ayat jurnal yang dibutuhkan akan bervariasi dengan jenis pelepasan dan kondisi, tetapi ayat jurnal berikut selalu dibutuhkan.

Akun aset harus dikredit untuk mengeluarkan aset dari buku besar, dan akun Akumulasi Penyusutan terkait harus didebit untuk mengeluarkan saldonya dari buku besar.

Penjualan Aset Tetap

Ketika aset tetap dijual, si pemilik bisa impas, menderita kerugian, atau memperoleh keuntungan.

  1. Harga jual setara dengan nilai buku, tidak ada untung atau rugi.
  2. Jika harga jual kurang dari nilai buku, ada kerugian senilai selisih tersebut.
  3. Jika harga jual lebih dari nilai buku, ada keuntungan senilai selisih tersebut.

Keuntungan atau kerugian akan dilaporkan di laporan laba rugi sebagai Pendapatan Lain-lain atau Kerugian Lain-lain.

Pertukaran Aset Tetap Sejenis

Nilai tukar tambah (NTT) – nilai peralatan lama yang dihitung sebagai pengurang dari harga beli aset baru sejenis.

  • Sisa yang terutang – saldo yang terutang atas peralatan baru setelah dikurangi dengan nilai tukar tambah.
  • Nilai Tukar Tambah (NTT) > Nilai Buku (NB) = Keuntungan atas Pertukaran
  • Nilai Buku (NB) > Nilai Tukar Tambah (NTT) = Kerugian atas Pertukaran
  • Keuntungan tidak pernah diakui atau tidak dicatat.
  • Kerugian harus diakui (dicatat).

Sumber Daya Alam dan Deplesi

Deplesi adalah proses pemindahan beban sumber daya alam ke akun beban. Deplesi merupakan penyusutan untuk asset berupa sumber daya alam.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Aset Tetap – Bagian 2, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Aset Tetap – Bagian 2

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Aset Tetap – Bagian 1

Aset merupakan hal terpenting dalam sebuah perusahaan. Asset adalah salah satu akun dalam sebuah laporan keuangan, yaitu pada laporan posisi keuangan. Aset terbagi menjadi dua yaitu aset lancar dan aset tetap. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Aset Tetap – Bagian 1.

Karakteristik Aset Tetap
  • Aset tetap adalah aset jangka panjang atau relatif permanen.
  • Merupakan aset berwujud karena terlihat secara fisik.
  • Aset dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual sebagai bagian dari operasi normal.

Harga Perolehan Tanah

Berikut ini merupakan pengeluaran yang termasuk dalam perhitungan harga perolehan tanah:

  • Harga beli
  • Pajak penjualan
  • Perizinan dari badan pemerintah
  • Komisi makelar
  • Bea balik nama
  • Biaya survei
  • Pajak real estate
  • Pembongkaran bangunan yang tidak diperlukan
  • Perataan tanah
  • Pengaspalan atau pelapisan jalan umum yang membatasi tanah

Harga Perolehan Bangunan

Berikut ini merupakan pengeluaran yang termasuk dalam perhitungan harga perolehan bangunan:

  • Pembayaran jasa arsitek
  • Biaya jasa insinyur
  • Asuransi selama periode konstruksi
  • Bunga atas pinjaman untuk mendanai konstruksi
  • Jalan setapak ke dan sekitar bangunan
  • Pajak penjualan
  • Perbaikan (pembelian bangunan bekas)
  • Rekondisi (pembelian bangunan bekas)
  • Modifikasi penggunaan
  • Izin dari badan-badan pemerintah

Harga Perolehan Mesin dan Peralatan

Berikut ini merupakan pengeluaran yang termasuk dalam perhitungan harga perolehan mesin dan peralatan:

  • Pajak penjualan
  • Biaya angkut
  • Instalasi
  • Perbaikan (pembelian mesin bekas)
  • Rekondisi (pembelian mesin bekas)
  • Asuransi selama perjalanan
  • Perakitan
  • Modifikasi kegunaan
  • Pengujian
  • Izin dari badan-badan pemerintah

Tidak Termasuk Biaya Akuisisi Aset Tetap

Berikut ini merupakan pengeluaran yang tidak termasuk dalam biaya akuisisi asset tetap:

  • Vandalisme
  • Kesalahan dalam instalasi
  • Pencurian yang tidak diasuransikan
  • Kerusakan selama pembongkaran dan instalasi
  • Denda karena tidak memperoleh izin yang sesuai dari badan pemerintah

Karakteristik Penyusutan

Semua aset tetap kecuali tanah kehilangan kapasitas produktifnya untuk menyediakan jasa. Kehilangan ini diakui sebagai Beban Penyusutan. Penyusutan fisik terjadi akibat kerusakan dan keausan ketika digunakan dan pengaruh cuaca. Penyusutan fungsional terjadi ketika suatu aset tetap tidak lagi dapat menyediakan jasa pada tingkat yang dimaksudkan, misalnya, komputer pribadi (PC).

Metode Penyusutan
  • Garis Lurus
  • Saldo Menurun
  • Unit Produksi

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Aset Tetap – Bagian 1, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Aset Tetap – Bagian 1

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Persediaan

Persediaan adalah unsur yang paling aktif dalam opperasi perusahaan yang dilakukan secara terus menerus di produksi. Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Persediaan.

Karakteristik Persediaan
  • Untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
  • Dalam proses produksi untuk kemudian dijual
  • Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa

Pengukuran

Nilai persediaan diukur pada nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih. Biaya perolehan yaitu biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lainnya untuk membawa persediaan ke kondisi sekarang. Nilai realisasi bersih yaitu harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan dan menjual.

Biaya Persediaan
  • Biaya Pembelian, yaitu meliputi harga beli, bea impor, pajak, biaya angkut, dan biaya lain yang dapat diatribusikan secara langsung. Tidak termasuk: diskon dagang dan beban keuangan
  • Biaya Konversi, yaitu tenaga kerja langsung, alokasi beban overhead tetap – berdasarkan kapasitas produksi normal atau produksi aktual jika produksi di atas kapasitas normal, dan overhead yang tidak teralokasi diakui sebagai beban periode berjalan.

Tidak Termasuk Biaya Persediaan

Yang tidak termasuk biaya persediaan yaitu:

  • Bahan tidak terpakai, tenaga kerja dan biaya produksi lainnya yang tidak normal.
  • Biaya penyimpanan, kecuali biaya yang diperlukan dalam proses produksi sebelum tahap produksi selanjutnya.
  • Overhead administratif yang tidak berkontribusi untuk membuat persediaan ke kondisi dan lokasi sekarang.
  • Beban penjualan

Pengungkapan
  • Kebijakan akuntansi untuk mengukur persediaan.
  • Nilai tercatat persediaan untuk masing-masing kelompok persediaan.
  • Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban periode berjalan.
  • Penurunan nilai persediaan dan pemulihannya.
  • Jumlah tercatat persediaan yang diagunkan.

Penilaian Lower of Cost or Market

Lower of Cost or Market merupakan penilaian persediaan yang membandingkan mana yang lebih rendah antara Harga Pokok atau Harga Pasar. Nilai Pasar adalah biaya penggantian untuk mendapatkan barang sejenis pada tanggal persedian. Penerepkan metode nilai pasar atau biaya lebih rendah dapat ditentukan dari salah satu tiga cara :

  1. Setiap barang dalam persediaan .
  2. Kelas atau kategori utama dalam persediaan.
  3. Persediaan secara keseluruhan.

Mengestimasi Biaya Persediaan

Untuk mengetahui jumlah persediaan ketika catatan tidak ada dan perhitungan fisik tidak praktis. Maka biaya persediaan harus diperkirakan  menggunakan:

  • Metode persediaan ritel : berdasarkan hubungan biaya barang tersedia untuk dijual terhadap harga retil yang sama.
  • Metode laba kotor : menggunakan laba kotor dalam periode tertentu untuk memperkirakan persediaan pada akhir periode.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Persediaan, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Persediaan

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik

Seperti pada perusahaan jasa dan perusahaan dagang, dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur juga terdiri dari beberapa proses, dimulai dengan adanya transaksi kemudian dilakukan pencatatan pada jurnal dan selanjutnya dilaporkan pada laporan keuangan. Pada tahap penyelesaian ini terdiri dari beberapa proses yang harus dilakukan dan ada perbedaan dengan perusahaan jasa dan perusahaan dagang. Pada kesempatan kali ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan informasi mengenai Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik.

Metode Fisik/ Periodik

Jika perusahaan menerapkan sistem periodik, nilai saldo akhir persediaan di Neraca ditentukan dengan cara melakukan penghitungan fisik persediaan yang lumrah dikenal dengan istilah “stock opname” sederhananya; di akhir periode, fisik barang bersediaan (bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses dan barang jadi) dihitung jumlahnya. Jumlah fisik barang lalu dikalikan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) satuan barang.

Perusahaan yang menggunakan sistem periodik, nilai persediaan yang digunakan (dan terjual)—untuk dibebankan sebagai “Harga Pokok Penjualan”, dihitung dengan cara menjumlahkan saldo awal persediaan dengan total pembeliaan (atau persediaan masuk) lalu dikurangi dengan saldo akhir persediaan yang diperoleh melalui penghitungan fisik.

 

Jurnal-Jurnal yang Diperukan
  • Transaksi Pembelian

(D) Pembelian

(K) Kas/Hutang

  • Mencatat Retur Pembelian

(D) Hutang/Kas

(K) Retur pembelian

  • Mencatat Pembayaran Hutang

(D) Hutang

(K) Kas

(K) Potongan Pembelian

  • Mencatat Biaya Transportasi/ Biaya Angkut

(D) Biaya transportasi

(K) Kas

  • Mencatat Biaya Gaji

(D) Biaya Gaji dan upah

(K) Kas

  • Mencatat Biaya Asuransi dan Biaya Utilitas

(D) Biaya asuransi

(D) Biaya utilitas

(K) Kas

 

Jurnal Penyesuaian
  • Depresiasi Aset Tetap

(D) Depresiasi Aset Tetap

(K) Akumulasi Depresiasi Aset Tetap

Alokasi:

(D) Depresiasi bangunan pabrik

(D) Depresiasi bangunan toko

(D) Depresiasi bangunan kantor

(K) Depresiasi Aset tetap

  • Gaji dan Upah

(D) Tenaga kerja langsung

(D) Gaji pengawas pabrik

(D) Gaji pegawai kantor

(K) Gaji dan upah

  • Biaya Utilitas

(D) Biaya utilitas pabrik

(D) Biaya utilitas kantor

(D) Biaya utilitas toko

(K) Biaya utilitas

  • Biaya Asuransi

(D) Biaya asuransi pabrik

(D) Biaya asuransi toko

(K) Biaya asuransi

 

Jurnal Penutup
  • (D) Biaya Overhead Pabrik

(K) Biaya asuransi pabrik

(K) Biaya gaji pengawas pabrik

(K) Biaya depresiasi bangunan Pabrik

(K) Biaya utilitas pabrik

(K) Biaya mesin pabrik

(K) Biaya macam-macam pabrik

  • (D) Persediaan BDP

(K) Biaya overhead pabrik

  • (D) Persediaan barang jadi

(K) Persediaan BDP

  • (D) Laba rugi

(K) Persediaan brg jadi

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Jurnal Khusus

Untuk melakukan pencatatan jurnal dapat dilakukan melalui jurnal umum dan jurnal khusus. Jurnal khusus ini akan mempermudah kita karena setiap transaksi dicatat pada jurnal yang berbeda, sehingga ketika kita mencari transaksi tertentu kita langsung mencarinya pada jenis jurnal yang sesuai. Jurnal khusus ini terdiri dari berbagai macam. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Jurnal Khusus.

Pengertian Jurnal Khusus 

Jurnal khusus merupakan ayat jurnal yang disusun untuk mencatat transaksi perusahaan yang meliputi pembelian, penjualan, penerimaan kas dan pengeluaran kas. Transaksi tersebut terjadi secara rutin, sering dan berulang selama satu periode akuntansi sehingga pencatatan transaksi pada perusahaan dagang dilakukan di jurnal khusus. Untuk transaksi yang jarang terjadi tetap dicatat di dalam jurnal umum, misalnya transaksi pengembalian barang dagang (retur).

Manfaat Jurnal Khusus
  1. Memungkinkan pembagian pekerjaan. Jurnal umum mencatat semua transaksi pada satu jurnal sehingga cukup sulit dalam membagi pekerjaan secara baik. Pada jurnal khusus pembagian pekerjaan ini bisa dilakukan dengan baik karena terdapat beberapa jurnal yang sesuai dengan jenis transaksinya. Jadi, bagi perusahaan yang besar dapat menugaskan  satu orang khusus untuk menangani satu jurnal. Hal ini akan mendorong hasil yang baik karena adanya spesialisasi dalam penanganan suatu pekerjaan.
  1. Memudahkan posting ke akun buku besar. Manfaat kedua adalah lebih praktis dan mudahnya melakukan posting ke dalam buku besar.
  1. Memungkinkan pengendalian internal yang lebih baik. Dengan adanya spesialisasi pencatatan, pengendalian internal akan lebih baik dalam menangani satu atau dua jurnal khusus. Dibandingkan dengan satu orang yang menangani lebih dari satu bahkan untuk semua jurnal.
Jenis-Jenis Jurnal Khusus

Setiap perusahaan bisa merancang dan menyediakan jurnal khusus sesuai dengan kebutuhannya, jadi kemungkinannya terdapat perbedaan pada setiap perusahaan dalam menyusun bentuk jurnal khusus kecuali pada perusahaan yang sejenis. Jurnal khusus terdapat beberapa jenis, diantaranya:

  • J. Pembelian adalah jurnal khusus yang fungsinya untuk mencatat transaksi-transaksi pembelian barang dagang ataupun barang lainnya yang sistem pembayarannya dilakukan secara kredit.
  • J. Penjualan adalah jurnal khusus yang fungsinya untuk mencatat transaksi penjualan barang atau secara kredit.
  • J. penerimaan kas adalah buku harian khusus yang fungsinya untuk mencatat semua transaksi penerimaan kas dari hasil penjualan secara tunai baik berupa kas ataupun cek. Buku ini sering juga disebut sebagai buku kas masuk.
  • J. pembayaran kas adalah buku harian khusus yang fungsinya untuk mencatat semua transaksi pembayaran hutang, pembayaran beban dsb secara tunai, baik menggunakan cek ataupun kas. Jurnal ini sering disebut dengan buku kas keluar.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Jurnal Khusus, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Jurnal Khusus

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Jurnal, Buku Besar, dan Neraca Saldo

Setelah melakukan analisis transaksi, maka langkah selanjutnya akan dilakukan penjurnalan. Jurnal sangan penting karena merupakan catatan atas transaksi yang terjadi di suatu perusahaan. Setelah dilakukan penjurnalan, maka angka yang ada di jurnal akan dimasukkan ke dalam buku besar masing-masing akun dan setelah direkap akan muncul saldo yang akan dimasukkan ke dalam neraca saldo. Berikut ini Kami dari tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Jurnal, Buku Besar, dan Neraca Saldo.

Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa
  1. Transaksi
  2. Pencatatan. Tahap pencatatan terdiri dari:
  • Pembuatan / penerimaan bukti transaksi
  • Penggolongan dan Pencatatan dalam Buku Harian/Jurnal (Journalizing)
  • Pemindahbukuan dari buku harian ke perkiraan/account di Buku Besar (Posting)
  1. Pengikhtisaran dan Pelaporan. Tahap ini terdiri dari:
  • Pembuatan Neraca Saldo
  • Jurnal Penyesuaian dan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
  • Penyusunan Laporan Keuangan
  • Jurnal Penutup
  • Neraca Saldo Penutup dan Jurnal Balik
Alur Transaksi Bisnis
  1. Transaksi diotorisasi
  2. Transaksi terjadi
  3. Dokumen disiapkan
  4. Ayat jurnal dicatat di jurnal
  5. Ayat jurnal diposting ke buku besar
Sistem untuk Menganalisis Transaksi
  1. Tentukan apakah akun aset, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, atau beban terpengaruh oleh suatu transaksi.
  2. Untuk setiap akun yang terpengaruh oleh suatu transaksi, tentukan apakah akun tersebut mengalami kenaikan atau penurunan.
  3. Tentukan apakah kenaikan atau penurunan yang terjadi dalam suatu transaksi dicatat sebagai debit atau kredit.
Contoh Transaksi dan Jurnal

Transaksi:

Des. 1  NetSolutions membayar premi sebesar $2.400 untuk polis asuransi komprehensif yang mencakup periode waktu dua tahun.

Des. 1  NetSolutions membayar sewa untuk bulan Desember sebesar $800.

Des. 1  NetSolutions menerima pendapatan sewa sebesar $360 untuk sewa selama tiga bulan mulai tanggal 1 Desember .

Des. 4  NetSolutions membeli peralatan kantor secara kredit dari Executive Supply Co. sebesar $1.800.

Des. 11 NetSolutions membayar kreditor sebesar $400.

Des. 16 NetSolutions menerima pendapatan jasa sebesar $3,100 secara tunai untuk jasa selama dua minggu pertama di bulan Desember.

Des. 16 Pendapatan jasa secara kredit selama paruh pertama bulan Desember adalah sebesar $1.750.

Des. 21 NetSolutions menerima $650 dari pelanggannya sebagai pelunasan utang mereka.

Des. 31 Chris Clark menarik kas sebesar $2.000 untuk kepentingan pribadi.

 

Jurnal:

Des 1   (D) Asuransi Dibayar di Muka 2.400 (K) Kas 2.400

Des 1   (D) Beban Sewa  800  (K) Kas 800

Des 1   (D) Kas 360 (K) Sewa Diterima di muka 360

Des 4   (D) Peralatan Kantor 1.800 (K) Utang usaha 1.800

Des 11 (D) Utang usaha 400 (K) Kas 400

Des 16 (D) Kas 3.100 (K) Pendapatan Jasa 3.100

Des 16 (D) Piutang usaha 1.750 (K) Pendapatan jasa 1.750

Des 21 (D) Kas 650 (K) Piutang Usaha 650

Des 31 (D) Penarikan Chris Clark 2.000 (K) Kas 2.000

 Trial Balance/ Neraca Saldo
  • Pengikhtisaran saldo semua akun di buku besar.
  • Penulisan urut kelompok akun: aset, kewajiban/utang, modal, penarikan prive, pendapatan dan biaya.
  • Total kolom debit dan kredit pada neraca saldo harus sama.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Jurnal, Buku Besar, dan Neraca Saldo, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Jurnal, Buku Besar, dan Neraca Saldo

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training