• +08123070905
  • sdmindonesia.info@gmail.com

Blog

Activity-Based Costing (ABC) dan Activity-Based Management (ABM)

Untuk dapat mencapai kualitas produk yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan perusahaan harus mampu hanya menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Untuk mewujudkan perlu suatu filosofi untuk menghilangkan pemborosan. Selain itu, usaha menghasilkan produk yang bermutu hanya dapat dicapai bila proses bermutu dapat dicapai. Perbaikan-perbaikan yang dapat dilakukan penghematan di berbagai bidang hanya dapat dilakukan dalam suatu proses yang berlangsung panjang dan terus menerus dan berkesinambungan. Metode ABC (Activity Based Costing) merupakan alternatif lain terhadap metode pembiayaan tradisional atas biaya overhead. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Activity-Based Costing (ABC) dan Activity-Based Management (ABM).

Latar Belakang
  • Ingatlah bahwa Overhead Pabrik diterapkan pada produksi secara sistematis yang rasional, dengan menggunakan beberapa jenis rata-rata. Ada berbagai metode untuk mencapai tujuan ini.
  • Metode ini sering melibatkan pengorbanan antara kesederhanaan dan realisme

 

Overcosting Dan Undercosting
  • Overcosting yaitu ketika sebuah produk mengkonsumsi sumber daya yang rendah namun dialokasikan biaya per unit yang tinggi.
  • Undercosting yaitu ketika produk mengkonsumsi sumber daya tingkat tinggi namun diberi biaya per unit yang rendah.

 

Cross-Subsidization
  • Merupakan hasil overcosting satu produk dan undercosting lainnya
  • Produk yang overcosted menyerap terlalu banyak biaya, membuatnya tampak kurang menguntungkan daripada sebenarnya.
  • Produk undercosted dibiarkan dengan biaya yang terlalu sedikit, membuatnya tampak lebih menguntungkan daripada sebenarnya.

 

Memilih Sistem Penentuan Biaya

Dalam memilih system penentuan biaya perlu memerhatikan berikut:

  • Peningkatan keanekaragaman produk
  • Kenaikan Biaya Tidak Langsung
  • Kemajuan teknologi informasi
  • Persaingan di pasar luar negeri

 

Hirarki Biaya

ABC (Activity Based Costing) menggunakan struktur biaya empat tingkat untuk menentukan sejauh mana biaya siklus produksi harus didorong :

  • Tingkat unit (tingkat output) (Unit-level (output-level))
  • Batch-level (Tingkat batch)
  • Product-sustaining-level
  • Facility-sustaining-level

 

ABC vs Skema Biaya Sederhana
  • Activity Based Costing umumnya dianggap menghasilkan angka penetapan biaya yang superior karena penggunaan beberapa driver di berbagai tingkat
  • ABC hanya sebagus driver yang dipilih, dan hubungan sebenarnya dengan biaya. Driver yang tidak terpilih akan menghasilkan biaya yang tidak akurat, bahkan dengan ABC

 

Activity-Based Management

Merupakan suatu metode manajemen yang menggunakan ABC sebagai bagian integral dalam situasi pengambilan keputusan yang penting, termasuk :

  • Keputusan penetapan harga dan produk-campuran
  • Pembuatan keputusan pengurangan biaya dan perbaikan proses
  • Merancang keputusan
  • Merencanakan dan mengelola kegiatan

 

Peringatan Penggunaan ABC
  • Biaya overhead signifikan dialokasikan dengan menggunakan satu atau dua pool biaya
  • Sebagian besar atau semua overhead dianggap unit-level
  • Produk yang mengkonsumsi jumlah sumber daya yang berbeda
  • Produk yang harus berhasil dibuat dan dijual secara konsisten menunjukkan keuntungan kecil
  • Staf operasi tidak setuju dengan akuntansi mengenai biaya produksi dan pemasaran

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Activity-Based Costing (ABC) dan Activity-Based Management (ABM), bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Activity-Based Costing (ABC) dan Activity-Based Management (ABM)

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

 

Anggaran Fleksibel, Varians Biaya Langsung & Pengendalian Manajemen

Penganggaran adalah penciptaan suatu rencana kegiatan yang dinyatakan dalam ukuran keuangan. Penganggaran memainkan peran penting di dalam perencanaan, pengendalian, dan pembuatan keputusan. Anggaran juga untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi. Penganggaran merupakan salah satu jenis perencanaan. Pada kenyataannya jarang sekali pengeluaran biaya produksi sesungguhnya sama dengan standar. Pada umumnya terdapat perbedaan antara biaya  standar dengan pelaksanaan, yang disebut sebagai selisih atau varians. Selisih adalah perbedaan antara biaya menurut standar (anggaran) dengan biaya aktual (yang sesungguhnya terjadi). Selisih merupakan petunjuk tentang adanya ketidak tepatan, sehingga manajemen perlu menganalisis penyebab terjadinya selisih. Jika pelaksanaan sesungguhnya menyimpang terus-menerus dari standar dengan jenis penyimpangan yang sama, maka bisa jadi terdapat ketidak tepatan dalam standarnya. Namun jika penyimpangan tersebut tidak terjadi terus menerus dan dengan pola yang berbeda-beda, berarti terjadi kesalahan dalam pelaksanaan (biaya aktual). Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Anggaran Fleksibel, Varians Biaya Langsung & Pengendalian Manajemen.

Konsep Dasar
  1. Varians merupakan perbedaan antara hasil aktual dan kinerja yang diharapkan (dianggarkan).
  2. Manajemen dengan pengecualian yaitu praktik memusatkan perhatian pada area yang tidak berjalan seperti yang diharapkan (dianggarkan).
  3. Anggaran dasar (master) didasarkan pada output yang direncanakan pada awal periode anggaran.
  4. Varians anggaran statis yaitu perbedaan antara hasil sebenarnya dan jumlah anggaran statis yang sesuai
  5. Favorable Variances (Varians yang menguntungkan) artinya memiliki efek peningkatan pendapatan operasional relatif terhadap jumlah anggaran
  6. Unfavorable Variances (Varians yang tidak menguntungkan) artinya memiliki efek penurunan pendapatan operasional relatif terhadap jumlah anggaran

 

Anggaran Fleksibel
  • Anggaran fleksibel adalah menggeser pendapatan yang dianggarkan dan biaya naik turun berdasarkan hasil operasi aktual (aktivitas)
  • Merupakan gabungan aktivitas aktual dan jumlah dolar yang dianggarkan
  • Akan memungkinkan untuk mempersiapkan varians tingkat 2 dan 3

 

Mendapatkan Harga & Input Yang Dianggarkan

Harga input yang dianggarkan dan jumlah masukan yang dianggarkan dapat diperoleh dari sejumlah sumber termasuk data masukan aktual dari periode lalu, data dari perusahaan lain yang memiliki proses dan standar serupa yang dikembangkan oleh perusahaan itu sendiri. Standar adalah harga, biaya atau kuantitas yang ditentukan dengan cermat, yang digunakan sebagai tolok ukur untuk menilai kinerja.

 

Varians dan Jurnal Entri
  • Setiap varian harus dijurnal.
  • Setiap varian memiliki akun sendiri.
  • Variabel yang menguntungkan dikredit; varians yang tidak menguntungkan didebit.
  • Akun varians umumnya ditutup dengan harga pokok penjualan pada akhir periode, jika tidak material.

 

Perhitungan Biaya Standar
  • Sasaran atau standar ditetapkan untuk bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
  • Biaya standar dicatat dalam sistem akuntansi.
  • Harga aktual dan jumlah pemakaian dibandingkan dengan standar dan varians dicatat.

 

Biaya Standar Bisa Menjadi Alat Berguna
  • Varians harga dan efisiensi memberikan umpan balik untuk memulai tindakan perbaikan.
  • Standar digunakan untuk mengendalikan biaya.
  • Manajer menggunakan analisis varians untuk mengevaluasi kinerja setelah keputusan diterapkan.
  • Bagian dari program perbaikan berkelanjutan.

 

Benchmarking dan Varians
  • Benchmarking adalah proses berkelanjutan untuk membandingkan tingkat kinerja dalam menghasilkan produk dan layanan terhadap tingkat kinerja terbaik di perusahaan pesaing.
  • Varians dapat diperluas untuk mencakup perbandingan dengan entitas lain.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Anggaran Fleksibel, Varians Biaya Langsung & Pengendalian Manajemen, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Anggaran Fleksibel, Varians Biaya Langsung & Pengendalian Manajemen

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Syarat dan Tujuan Biaya

Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut. Dalam pengertian ekonomi biaya ialah semua “beban” yang harus ditanggung untuk menyediakan suatu barang agar siap dipakai oleh konsumen. Biaya dalam pengertian Produksi ialah Semua “beban” yang harus ditanggung oleh Produsen untuk menghasilkan suatu Produksi. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Syarat dan Tujuan Biaya.

Terminologi Biaya

Biaya (cost) adalah sumber yang dikorbankan atau dikeluarkan untuk mencapai tujuan tertentu. Actual cost (biaya aktual) adalah biaya sesungguhnya yang telah terjadi. Biaya yang dianggarkan (budgeted cost) adalah biaya yang diperkirakan. Objek biaya (cost object) adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk mengukur biaya. Akumulasi biaya (cost accumulation) yaitu pengumpulan data biaya secara terorganisir melalui sistem akuntansi. Pembebaanan biaya (cost assignment) yaitu istilah umum yang mencakup pengumpulan akumulasi biaya ke objek biaya dengan dua cara :

  • Menelusuri akumulasi biaya dengan hubungan langsung dengan objek biaya, dan
  • Mengalokasikan akumulasi biaya dengan hubungan tidak langsung dengan objek biaya.

 

Biaya Langsung dan Tidak Langsung

Salah satu cara kita membedakan antara berbagai jenis biaya adalah dengan mengidentifikasi mereka secara langsung atau tidak langsung.

  • Direct cost (biaya langsung) dapat ditelusuri dengan mudah dan ekonomis (dilacak) ke objek biaya.
  • Biaya tidak langsung (indirect cost) tidak dapat dilacak dengan mudah atau ekonomis ke objek biaya. Alih-alih ditelusuri, biaya ini dialokasikan ke objek biaya secara rasional dan sistematis.

 

Contoh Biaya
  • Biaya Langsung (direct costs)
    • Bagian (baja atau ban untuk mobil, sebagai contohnya)
    • Upah bagian perakitan
  • Biaya Tidak Langsung (indirect costs)
    • Listrik
    • Sewa
    • Pajak properti
    • Biaya administrasi pabrik

 

Perilaku Biaya
  • Variable cost (biaya variabel) yaitu biaya yang perubahan total sebanding dengan perubahan tingkat aktivitas atau volume output yang terkait.
  • Biaya tetap (fixed costs) yaitu biaya yang tetap tidak berubah total, untuk jangka waktu tertentu, terlepas dari perubahan tingkat aktivitas atau volume output yang terkait.
  • By tetap atau variabel hanya berkenaan dengan aktivitas tertentu atau jangka waktu tertentu.
  • Biaya variabel konstan pada basis per unit. Jika sebuah produk mengambil 5 pon bahan masing-masing, tetap sama per unitnya terlepas dari satu, sepuluh, atau seribu unit yang diproduksi.
  • By. tetap per unit berubah secara terbalik dengan tingkat produksi. Karena semakin banyak unit yang diproduksi, biaya tetap yang sama tersebar di lebih banyak unit, mengurangi biaya per unit.

 

Jenis Persediaan

Perusahaan-perusahaan biasanya memiliki satu atau lebih dari tiga jenis persediaan berikut :

  • Bahan langsung (direct material) sumber dalam persediaan dan tersedia untuk digunakan
  • Barang dalam proses (work in process) yaitu produk dimulai tapi belum selesai, sering disingkat WIP atau BDP
  • Persediaan barang jadi (finished goods) yaitu produk selesai dan siap dijual.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Syarat dan Tujuan Biaya, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Syarat dan Tujuan Biaya

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

 

Investasi

Dunia Globalisasi merupakan hal yang sudah tak asing lagi buat kita semua. Dunia globalisasi telah masuk kesemua Negara tak heran globalisasi membawa hal yang baik dan buruknya. Globalisasi juga telah berkembang merambat kedunia perekonomian biasanya berupa  penanaman modal pada suatu sektor industri. Setiap individu pada dasarnya memerlukan investasi, karena dengan investasi setiap orang dapat mempertahankan dan memperluas basis kekayaannya yang dapat digunakan sebagai jaminan sosial di masa depannya. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Investasi.

Akuntansi Aset Keuangan

Aset Keuangan:

  • Kas
  • Investasi ekuitas perusahaan lain (misal, Saham biasa atau saham preferen).
  • Hak kontraktual untuk menerima uang tunai dari pihak lain (misal., Pinjaman, piutang, dan obligasi).

IFRS mewajibkan perusahaan mengukur aset keuangan berdasarkan dua kriteria :

  • Model bisnis perusahaan untuk mengelola aset keuangannya; dan
  • Karakteristik arus kas kontraktual dari aset keuangan.

 

Investasi Hutang (Debt Investment)

Investasi hutang ditandai dengan pembayaran kontraktual pada tanggal yang ditentukan pokok dan bunga atas jumlah pokok pinjaman. Perusahaan mengukur investasi hutang pada biaya diamortisasi (amortized cost) atau nilai wajar.

Investasi hutang dengan nilai wajar mengikuti entri akuntansi yang sama dengan investasi hutang yang dimiliki untuk koleksi selama periode pelaporan. Artinya, mereka dicatat dengan biaya diamortisasi. Namun, pada setiap tanggal pelaporan, perusahaan:

  • Sesuaikan biaya diamortisasi dengan nilai wajar.
  • Laba atau rugi yang belum direalisasi dilaporkan sebagai bagian dari laba (metode nilai wajar).

Perusahaan memiliki opsi untuk melaporkan sebagian besar aset keuangan pada nilai wajar. Pilihan ini diterapkan secara instrumen per instrumen dan umumnya tersedia hanya pada saat perusahaan pertama kali membeli aset keuangan atau menimbulkan kewajiban keuangan.

Jika perusahaan memilih untuk menggunakan opsi nilai wajar, perusahaan mengukur instrumen ini pada nilai wajar sampai perusahaan tersebut tidak lagi memiliki kepemilikan.

 

Investasi Ekuitas (Equity Investment)

Investasi ekuitas merupakan kepemilikan saham biasa, preferen, atau modal saham lainnya.

  • Biaya meliputi harga keamanan.
  • Komisi dan biaya broker dicatat sebagai beban.

Tingkat di mana satu perusahaan (investor) memperoleh ketertarikan pada saham biasa dari perusahaan lain (investee) umumnya menentukan perlakuan akuntansi untuk investasi setelah akuisisi.

1.Kepemilikan Kurang dari 20%

Menurut IFRS, anggapan bahwa investasi ekuitas dimiliki untuk diperdagangkan (trading).  Aturan akuntansi dan pelaporan umum :

  • Investasi yang dinilai berdasarkan nilai wajar.
  • Catat keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi dalam laba bersih.

IFRS memungkinkan perusahaan untuk mengklasifikasikan beberapa investasi ekuitas sebagai tidak diperdagangkan (non-trading). Aturan akuntansi dan pelaporan umum:

  • Investasi yang dinilai berdasarkan nilai wajar.
  • Catat keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi dari pendapatan komprehensif lainnya.

2.Kepemilikan 20%-50%

Investasi (langsung atau tidak langsung) sebesar 20 persen atau lebih dari saham pemungut suara dari investee harus mengarah pada anggapan bahwa dengan tidak adanya bukti sebaliknya, investor memiliki kemampuan untuk menggunakan pengaruh signifikan atas investee. Dalam contoh “pengaruh signifikan,” investor harus memperhitungkan investasi dengan menggunakan metode ekuitas.

Mencatat investasi dengan biaya dan kemudian sesuaikan jumlah setiap periode

  • Bagian proporsional dari laba (rugi) dan
  • Dividen yang diterima oleh investor.

3.Kepemilikan Lebih dari 50%

Kepentingan Pengendali – Ketika satu perusahaan memperoleh pemungutan suara lebih dari 50 persen di perusahaan lain. Investor disebut sebagai induk.

  • Investee disebut sebagai anak perusahaan.
  • Investasi di anak perusahaan dilaporkan pada buku orang tua sebagai investasi jangka panjang.
  • Induk umumnya menyiapkan laporan keuangan konsolidasi.

Penurunan Nilai

Untuk investasi hutang, perusahaan menggunakan uji penurunan nilai untuk menentukan apakah “besar kemungkinan investor tidak dapat mengumpulkan semua jumlah yang harus dibayar sesuai dengan persyaratan kontrak.”

Kerugian penurunan nilai ini dihitung sebagai selisih antara nilai tercatat ditambah bunga yang masih harus dibayar dan arus kas masa depan yang diharapkan didiskontokan berdasarkan tingkat bunga efektif historis investasi.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Investasi, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Investasi

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Treasury Stock

Perseroan Terbatas (PT) merupakan suatu kesatuan usaha yang dari segi hukum dipisahkan dari pemiliknya. Karena terpisah dari pemiliknya maka kewajiban pemilik terhadap perusahaannya terbatas sampai jumlah modal yang disetornya. Selain itu bentuk perseroan memungkinkan untuk mendapat modal dari banyak orang, setiap orang yang menyetor menjadi pemilik dari perseroan tadi. Treasury stock adalah saham perusahaan yang di beli kembali dari peredaran untuk sementara. Perbedaan antara saham yang belum beredar dengan treasury stock adalah bahwa saham yang belum beredar itu merupakan modal saham yang belum di jual (diedarkan) sedangkan treasury stock merupakan modal saham yang beredar yang di beli kembali. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Treasury Stock.

Pengertian Treasury Stock

Perusahaan membeli kembali saham yg diterbitkan untuk tujuan tertentu, disebut treasury stock. Treasury stock adalah saham:

  1. Telah diterbitkan dan disetor penuh.
  2. Diperoleh kembali (reacquired) oleh perusahaan.
  3. Tidak dibatalkan / diterbitkan kembali.

Metode akuntansi yang digunakan adalah harga perolehan/ cost method.

 

Transaksi Treasury Stock
  • 5 Januari, perusahaan membeli 1,000 lembar treasury stock (common stock, $25 per lembar) $45 per lembar.
  • 2 Juni , dijual 200 lembar treasury stock $60 per lembar.
  • 3 September, menjual 200 lembar treasury stock $40 per lembar.

Jurnal yang diperlukan adalah sebagai berikut:

Jurnal tanggal 5 Januari:

(D) Treasury Stock      45.000

(K) Kas                         45.000

Jurnal tanggal 2 Juni:

(D) Kas             12.000

(K) Treasury Stock       9.000

(K) Paid in Capital       3.000

Jurnal tanggal 3 September

(D) Kas                         8.000

(D) Paid in Capital       1.000

(K) Treasury Stock       9.000

 

Stock Splits

Perusahaan menurunkan nilai nominal  saham biasa dan mengeluarkan sejumlah tambahan lembar saham. Hal ini disebut stock split. Stock split tidak merubah saldo rekening perusahaan.  Bahkan, membuat saham menjadi daya tarik investor karena adanya penurunan harga dari setiap lembar saham.

 

Akuntansi Dividen Kas
  • Dividen didistribusikan dari laba ditahan (retained earnings) ke pemegang saham.
  • Dapat berupa kas, saham, atau properti.
  • Dividen, untuk saham preferen kumulatif, bila sudah diumumkan akan menjadi legal liability bagi perusahaan.

Perusahaan mengumumkan dan membayar dividen  kas pada saham beredar  karena tiga kondisi:

  • Kecukupan Laba ditahan
  • Kecukupan kas
  • Tindakan formal dewan direksi

Terdapat tiga tanggal penting dalam dividen, yaitu:

  • Pertama yaitu Tanggal Pengumuman. Misal 1 Desember, Hiber Corporation mengumumkan deviden tunai $42,500. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Deviden kas           42.500

(K) Utang Deviden Kas                        42.500

  • Tanggal kedua, Tanggal Pencatatan. Hiber Corporation menentukan tgl 11 Desember. Pada tgl 11 Des, hanya menentukan pemegang saham yg berhak menerima dividen. Tidak ada jurnal.
  • Tanggal ketiga merupakan Tanggal Pembayaran. 2 Januari, Hiber membayar dividen. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Utang Deviden kas            42.500

(K) Kas                                     42.500

 

Akuntansi Dividen Saham

Pembagian deviden dalam bentuk lembar saham disebut dividen saham (stock dividend). Dividen yang dibagikan dalam bentuk saham.

 

Pelaporan

Ada dua alternatif pelaporan ekuitas pemegang saham di Neraca yaitu:

  • Pertama, setiap kelas saham disajikan terdahulu, diikuti dengan modal disetor yang terkait.
  • Cara kedua. Akun saham disajikan terlebih dahulu.  Akun modal disetor lainnya disajikan dalam satu akun yaitu tambahan modal disetor (Additional paid-in capital).

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Treasury Stock, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Treasury Stock

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

 

Laporan Arus Kas

Secara umum, laporan arus kas adalah laporan keuangan yang menyajikan lalu lintas arus kas keluar dan arus kas masuk perusahaan. Laporan arus kas akan menunjukkan tingkat efektivitas dan efisiensi penggunaan kas perusahaan. Laporan arus kas juga akan menunjukkan sumber-sumber pemasukan kas dan pengeluaran kas. Dengan laporan arus kas maka pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat. Misalnya, apabila arus kas masuk lebih kecil daripada arus kas keluar tentu kondisi ini akan membawa perusahaan dalam kondisi defisit kas, dan hal tersebut tentu tidak baik untuk perusahaan. Kondisi arus kas yang kecil dibandingkan dengan beban akan membuat kreditor kehilangan keyakinan atas perusahaan karena dianggap mengalami permalasahan keuangan. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Laporan Arus Kas.

Tujuan Utama Laporan Arus Kas

Memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan kas dan pembayaran tunai suatu perusahaan selama suatu periode.

Laporan memberikan jawaban atas pertanyaan berikut:

  1. Dari mana uang itu berasal?
  2. Berapa uang tunai yang digunakan?
  3. Berapakah perubahan dalam saldo kas?

 

Konten dan Format Laporan Arus Kas
  1. Transaksi yang masuk ke dalam penentuan laba bersih.
  2. Membuat dan mengumpulkan pinjaman dan akuisisi dan penempatan investasi dan properti, pabrik dan peralatan.
  3. Transaksi yang melibatkan kewajiban dan ekuitas

 

Menyiapkan Laporan Arus Kas

Informasi diperoleh dari beberapa sumber:

  1. Laporan posisi keuangan komparatif,
  2. Laporan laba rugi, dan
  3. Data transaksi dipilih

Tentukan:

  1. Jumlah kas bersih diperoleh dari (atau digunakan dalam) aktivitas operasi.
  2. Kas bersih diperoleh dari (atau digunakan dalam) aktivitas investasi dan pendanaan.
  3. Tentukan perubahan (kenaikan atau penurunan) kas selama periode tersebut.
  4. Rekonsiliasi perubahan kas awal dan saldo kas akhir.

 

Aktivitas Non-Kas Yang Signifikan

Dilaporkan dalam catatan terpisah atas laporan keuangan.

Contohnya meliputi:

  • Penerbitan saham biasa untuk pembelian aset.
  • Konversi obligasi menjadi saham biasa.
  • Penerbitan utang untuk membeli aset.
  • Pertukaran aset berumur panjang.

 

Kegunaan Laporan Arus Kas

Tanpa kas, perusahaan tidak akan bertahan. Arus kas dari Operasi :

  • Jumlah yang tinggi, mampu menghasilkan kas yang cukup dari operasi untuk membayar tagihannya tanpa pinjaman lebih.
  • Jika jumlah rendah atau negatif, mungkin harus
    • Meminjam atau
    • Menerbitkan sekuritas.

 

Catatan Atas Laporan Keuangan

Kebijakan Akuntansi.

  • Prinsip, dasar, konvensi, peraturan, dan praktik khusus yang diterapkan dalam mempersiapkan dan menyajikan informasi keuangan.
  • Catatan pertama secara umum berjudul, “Ikhtisar Kebijakan Akuntansi Yang Signifikan.”

IFRS membutuhkan pengungkapan khusus. Contohnya meliputi:

  1. Properti, pabrik dan peralatan dipilah menjadi beberapa kelas seperti
    • Tanah,
    • Bangunan, dll,
    • Dalam catatan, dengan akumulasi penyusutan yang dilaporkan jika ada.
  2. Piutang dipilah menjadi beberapa bagian
    • Bagian piutang dari trade customers,
    • Piutang dari pihak hubungan istimewa,
    • Pembayaran di muka, dan
    • Jumlah lainnya
  3. Persediaan dipilah menjadi klasifikasi seperti barang dagangan, persediaan produksi, barang dalam proses, dan barang jadi.
  4. Provisi dibagi menjadi beberapa untuk imbalan kerja dan bagian lainnya.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Laporan Arus Kas, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Laporan Arus Kas

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

 

Standar Akuntansi di Indonesia

Salah satu sarana penunjang yang diperlukan oleh suatu perusahaan atau suatu unit ekonomi adalah standar akuntansi yang memungkinkan terlaksananya sistem informasi manajemen dengan baik. Standar akuntansi dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun laporan keuangan yang layak serta memiliki daya banding sehingga dapat menyajikan informasi yang bernilai bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Hal ini diperjelas oleh Ikatan Akuntansi Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) sebagai pedoman pokok penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi perusahaan, dana pensiun dan unit ekonomi lainnya adalah sangat penting, agar laporan keuangan lebih berguna, dapat dimengerti dan dapat diperbandingkan serta tidak menyesatkan. Oleh karena itu, maka standar akuntansi merupakan suatu pedoman yang wajib ditaati bagi mereka yang melakukan kegiatan di bidang akuntansi, dalam rangka penyusunan laporan keuangan. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Standar Akuntansi di Indonesia.

Ikatan Akuntan Indonesia
  • IAI (Ikatan Akuntan Inonesia) terbentuk pada tahun 1957
  • Prinsip akuntansi masih sebatas usulan-usulan (pada kongres 1 dan 2)
  • Pembahasan prinsip akuntansi pada kongres 3 IAI awal 1973, karena desakan perusahaan yang akan go publik sebagai persyaratan dari BAPEPUM harus memenuhi prinsip akuntansi dan audit.

 

Perkembangan Standar Akuntansi
  • 1973, menjelang diaktifkannya pasar modal di Indonesia, dilakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dalam buku Prinsip akuntansi Indonesia.
  • 1984, revisi PAI tahun 1973 dengan tujuan menyesuaikan ketentuan akuntansi dalam perkembangan dunia usaha.
  • 1994, revisi total PAI 1984, melakukan modifikasi dalam buku SAK per 1 Oktober 1994.

 

PAI 1973
  • Prinsip dan standar akuntansi di Indonesia selalu mengacu pada standar yang ada di Amerika Serikat.
  • PAI mengacu pada materi yang diterbitkan AICPA (American Institute of Certified Public Accountants)

 

PAI 1984
  • Di AS FAB (Financial Accounting Board) dibentuk dan SFAC (Statement of Financial Accounting Concept) diterbitkan untuk kepentingan perkembangan dunia usaha
  • SFAC no.1 : Objective of Financial Reporting by Business Enterprise (Nov 1978), SFAC no.2 : Qualitative Characteristic of Accounting Information (Mei 1980), SFAC no.3 : Elements of Financial Statements of Business Enterprise (Des 1980)
  • Berdasar penerbitan SFAC tersebut, PAI direvisi total untuk disesuaikan dengan SFAC dan perkembangan usaha di Indonesia, dan disahkan tahun 1984
  • 1986, komite PAI menerbitkan 6 pernyataan PAI (mengubah dan menambah standar yang ada) dan 9 interpretasi PAI (penjelasan standar)

 

SAK 1994-2004
  • Dibutuhkannya kerangka konseptual sebagai dasar penyusunan prinsip/standar akuntansi
  • Harus mengikuti harmonisasi standar akuntansi internasional, IAS (International Accounting Standards)
  • 1994, dilakukan harmonisasi dengan mengadaptasi IAS, dengan alasan:
    • Cocok dengan sosial ekonomi Indonesia dan IAS dapat memperkuat posisi Indonesia di era globalisasi
    • IAS disusun oleh IASC dengan anggota 14 negara dan berbagai organisasi internasional yang independen
    • IAS konsep dasarnya mirip dengan US GAAP yang menjadi acuan PAI
    • Negara tetangga, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan India mengadopsi IAS.
    • Mendapat dukungan Dep. Keuangan dan World Bank untuk mengadaptasi IAS
    • Satu-satunya alternatif terbaik dalam menghadapi tuntutan globalisasi
  • Disahkan 1994 dan berlaku efektif 1 Januari 1995
  • SAK terdiri dari 35 pernyataan:(IAS, FASB, dan Komite SAK IAI)
  • SAK menjadi memiliki mutu internasional, laporan keuangan

 

Beberapa PSAK & Interpretasi SAK
  • Revisi PSAK No. 28 mengenai Akuntansi Asuransi Kerugian.
  • PSAK No. 36 mengenai Akuntansi Asuransi Jasa.
  • Menerbitkan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) No. 1 mengenai Interpretasi atas paragraf 23 PSAK No. 21 tentang Penentuan Harga Pasar Dividen Saham.
  • ISAK No. 2 tentang Interpretasi atas Penyajian Piutang pada Pemesanan Saham.
  • Revisi PSAK No. 26 tentang Biaya Pinjaman.
  • Menerbitkan PSAK No. 37 tentang Akuntansi Penyelenggaraan Jalan Tol.
  • PSAK No. 38 tentang Akuntansi Restrukturisasi Entitas si Pengendali.
  • Menerbitkan PSAK No. 39 tentang Akuntansi Kerjasama Operasi.
  • PSAK No. 40 tentang Akuntansi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan/Perusahaan Asosiasi.
  • Menerbitkan PSAK No. 41 tentang Akuntansi Waran.
  • PSAK No. 42 tentang Akuntansi Perusahaan Efek.
  • Menerbitkan PSAK No. 43 tentang Akuntansi Anjak Piutang.
  • PSAK No. 44 tentang Akuntansi Pengembangan Aktivitas Pengembangan Real Estate.
  • Menerbitkan PSAK No. 45 tentang Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba.
  • PSAK No. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan.
  • Menerbitkan ISAK No. 3 tentang Interpretasi tentang pengakuan Akuntansi atas Pemberuan Sumbangan atau Bantuan.
  • ISAK No. 4 tentang Interpretasi atas paragraf 32 PSAK No. 10 tentang Alternatif Perlakuan yang Diizinkan atas Selisih Kurs.
  • Revisi PSAK No. 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan.
  • Melakukan Revisi PSAK No. 27 tentang Akuntansi Perkoperasian.
  • Menerbitkan PSAK No. 47 tentang Akuntansi Tanah.
  • PSAK No. 48 tentang Penurunan Nilai Aktiva.
  • Menerbitkan PSAK No. 49 tentang Akuntansi Reksadana.
  • PSAK No. 50 tentang Akuntansi Efek Tertentu.
  • Menerbitkan PSAK No. 51 tentang Akuntansi Kuasi Reorganisasi.

 

Manfaat Konvergensi IFRS
  • Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan Standar Akuntansi Keuangan yang dikenal secara internasional (enhance comparability).
  • Meningkatkan arus investasi global melalui transparansi.
  • Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara global.
  • Menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

 

Dampak IFRS
  • Konsep other comprehensive income didalam laba rugi komprehensif.
  • Perubahan definisi-definisi seperti kewajiban menjadi liabilitas dan hak minoritas menjadi kepentingan nonpengendali (non-controlling interst).
  • Pos Luar Biasa tidak lagi diperbolehkan.
  • Perubahan nama laporan keuangan.
  • Peningkatan penggunaan nilai wajar (fair value). sesuai Standar IFRS terutama untuk properti investasi, beberapa aset tak berwujud, dan aset keuangan.
  • Penggunaan estimasi dan judgement. Akibat karakteristik IFRS yang lebih berbasis prinsip, akan lebih dibutuhkan judgement untuk menentukan bagaimana suatu transaksi keuangan dicatat.
  • Persyaratan pengungkapan yang lebih banyak dan lebih rinci
  • IFRS mensyaratkan pengungkapan berbagai informasi tentang risiko baik kualitatif maupun kuantitatif.
  • Pengungkapan dalam laporan keuangan harus sejalan dengan data/informasi yang dipakai untuk pengambilan keputusan yang digunakan oleh manajemen.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Standar Akuntansi di Indonesia, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Standar Akuntansi di Indonesia

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan

Kerangka kerja konseptual memberikan adaptasi sistematik dalam standar akuntansi bagi lingkungan bisnis yang terus berubah. FASB menggunakan kerangka kerja konseptual untuk membekali perkembangan standar akuntansi yang baru secara terorganisasi dan konsisten. Disamping itu, mempelajari kerangka kerja konseptual FASB akan memudahkan seseorang untuk mengerti dan mengantisipasi standar masa depan. Kerangka kerja konseptual menyebutkan tujuan dari pelaporan keuangan dan karakteristik dari informasi akuntansi yang baik, mendefinisikan dengan tepat istilah-istilah yang biasa digunakan seperti asset dan pendapatan serta menyediakan petunjuk untuk pengakuan, pengukuran, dan pelaporan keuangan yang tepat. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan.

Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual membentuk konsep yang mendasari pelaporan keuangan. Kegunaan kerangka konseptual adalah sebagai berikut:

  • Peraturan dibuat harus membangun dan berhubungan dengan membentuk tubuh dari konsep (body of concept).
  • Memungkinkan IASB menerbitkan pernyataan lebih berguna dan konsisten dari waktu ke waktu.

 

Pengembangan Kerangka Konseptual

Saat ini, Kerangka Konseptual terdiri dari berikut ini.

  1. Tujuan Umum Pelaporan Keuangan
  2. Entitas Pelapor (belum diterbitkan)
  3. Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan
  4. Kerangka Kerja, terdiri dari:
  • Asumsi yang mendasari – asumsi kelangsungan hidup;
  • Unsur laporan keuangan;
  • Pengakuan unsur laporan keuangan;
  • Pengukuran unsur laporan keuangan; dan
  • Konsep modal dan pemeliharaan modal.

Level Pertama: Tujuan

Tujuan pelaporan keuangan yaitu memberikan informasi keuangan entitas pelapor yang berguna untuk menyajikan dan menyediakan sumber daya entitas kepada calon investor, kreditur, dan kreditor lainnya dalam membuat keputusan.

 

Level Kedua: Konsep Fundamental

IASB mengidentifikasi Karakteristik Kualitatif informasi akuntansi yang membedakan informasi yang lebih baik (lebih berguna) dari informasi inferior (kurang berguna) untuk tujuan pengambilan keputusan.

  1. Agar relevan, informasi akuntansi harus mampu membuat sebuah keputusan berbeda
  • Predictive value. Informasi keuangan memiliki nilai prediktif jika memiliki nilai sebagai masukan terhadap proses prediksi yang digunakan oleh investor untuk membentuk harapan mereka sendiri tentang masa depan.
  • Confirmatory value. Informasi yang relevan juga membantu pengguna mengkonfirmasi atau mengoreksi harapan sebelumnya.
  • Informasi bersifat material jika menghilangkan atau menyalahsajikan informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat pengguna atas informasi keuangan yang dilaporkan.
  1. Penyajian yang Wajar. Penyajian yang wajar berarti bahwa jumlah dan deskripsi cocok dengan apa yang sebenarnya ada atau pernah terjadi.
  • Kelengkapan berarti semua informasi yang diperlukan untuk penyajian yang wajar tersedia.
  • Neutrality. Netralitas berarti bahwa perusahaan tidak dapat memilih informasi hanya untuk mendukung salah satu pihak yang berkepentingan saja.
  • Free from error. Informasi yang bebas dari kesalahan akan menjadi penyajian informasi keuangan yang lebih akurat (wajar).
  1. Kualitas Pendukung
  • Informasi yang diukur dan dilaporkan dengan cara yang sama untuk perusahaan yang berbeda dapat dibandingkan.
  • Verifiability. Informasi keuangan memiliki nilai verifikasi ketika diukur dengan menggunakan metode yang sama akan memperoleh hasil yang serupa.
  • Ketepatan waktu berarti memiliki informasi yang tersedia bagi para pengambil keputusan sebelum kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan.
  • Understandability. Understandability (dapat dipahami) adalah kualitas informasi yang memungkinkan pengguna yang cukup mengetahui melihat signifikansinya.

 

Level Kedua: Elemen Dasar
  1. Aset, merupakan sumber daya yang dikendalikan oleh entitas sebagai akibat dari kejadian masa lalu dan memiliki manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan mengalir ke entitas.
  2. Liabilitas, merupakan kewajiban dari entitas yang timbul dari kejadian masa lalu, penyelesaiannya diperkirakan akan menghasilkan arus keluar dari sumber daya yang mewujudkan manfaat ekonomi.
  3. Ekuitas, merupakan kepentingan residu dalam aset sebuah entitas setelah dikurangi kewajibannya.
  4. Pedapatan, merupakan kenaikan manfaat ekonomi selama periode akuntansi berupa arus masuk atau penyempurnaan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain yang berkaitan dengan kontribusi investor.
  5. Beban, merupakan penurunan manfaat ekonomi selama periode akuntansi berupa arus keluar atau penipisan aset atau timbulnya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas, selain yang berkaitan dengan distribusi ke ekuitas pemegang saham.

 

Level Ketiga: Pengakuan, Pengukuran & Pengungkapan

Konsep ini menjelaskan bagaimana perusahaan harus mengakui, mengukur, dan melaporkan informasi dan kejadian akuntansi.

  1. Asumsi Dasar
  • Economic Entity yaitu perusahaan yang kegiatannya terpisah antara pemilik dan unit bisnisnya sendiri.
  • Going Concern yaitu perusahaan mampu bertahan cukup lama untuk memenuhi tujuan dan komitmen.
  • Monetary Unit yaitu uang adalah yang paling mendominasi.
  • Periodicity yaitu perusahaan dapat membagi kegiatan ekonomi ke dalam periode waktu.
  • Accrual Basis of Accounting yaitu transaksi dicatat dalam periode dimana peristiwa terjadi.
  1. Prinsip Pengukuran
  • Historical Cost umumnya dianggap menjadi representasi  dari jumlah yang dibayar untuk item tertentu.
  • Fair value adalah “nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan, kewajiban diselesaikan, atau instrumen ekuitas yang diberikan dapat dipertukarkan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk bertransaksi dalam waktu yang relatif lama.”
  1. Prinsip Pengakuan
  • Revenue Recognition (Pengakuan Pendapatan), yaitu Ketika perusahaan setuju untuk melakukan jasa atau menjual produk ke pelanggan, perusahaan tersebut memiliki kewajiban. Hal ini memerlukan agar perusahaan mengakui pendapatan dalam periode akuntansi dimana kewajiban terpenuhi.
  • Expense Recognition (Pengakuan Pengeluaran), yaitu Arus keluar atau “pengurasan habis” aset dapat menimbulkan kewajiban (atau kombinasi keduanya) selama periode sebagai akibat dari memberikan atau menghasilkan barang dan/ atau penyerahan jasa.
  1. Pengungkapan Penuh (Full Disclosure). Memberikan informasi yang  cukup penting untuk mempengaruhi penilaian dan keputusan pengguna informasi. Disediakan oleh:
  • Laporan Keuangan
  • Catatan Atas laporan Keuangan
  • Informasi Tambahan
  1. Kendala Biaya (Cost Constraint). Perusahaan harus mempertimbangkan biaya untuk menyediakan informasi terhadap manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaannya.
  • Badan pembuat peraturan dan badan pemerintah menggunakan analisis biaya-manfaat sebelum membuat persyaratan informasinya akhir.
  • Untuk membenarkan membutuhkan pengukuran atau pengungkapan tertentu, manfaat yang dirasakan harus melebihi biaya yang dikeluarkan.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

Persediaan – Bagian 1

Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual. Dapat disimpulkan bahwa Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan bangunan. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Persediaan – Bagian 1.

Pengertian

Persediaan merupakan asset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, atau barang yang akan digunakan dalam produksi barang yang akan dijual. Usaha yang memiliki persediaan yaitu perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur. Klasifikasi persediaan yaitu:

  • Satu akun persediaan. Membeli barang dagangan dalam bentuk siap jual.
  • Tiga akun, yaitu Bahan baku, Barang dalam proses, dan Barang jadi.

 

Sistem Persediaan

Dua jenis sistem untuk memelihara catatan persediaan – sistem perpetual atau sistem periodik.

  • Sistem Perpetual. Sistem persediaan perpetual memberikan catatan keseimbangan yang berkesinambungan baik dalam akun Persediaan dan Harga pokok penjualan.
  1. Pembelian barang dagangan didebet ke akun Persediaan.
  2. Pengangkutan di debit ke Persediaan. Retur pembelian dan diskon pembelian dikreditkan ke Persediaan.
  3. Harga pokok penjualan didebet dan Persediaan dikreditkan untuk setiap penjualan.
  4. Catatan anak perusahaan menunjukkan jumlah dan biaya masing-masing jenis persediaan di tangan.
  • Sistem Periodik
  1. Pembelian barang dagangan didebet ke Pembelian.
  2. Persediaan akhir ditentukan oleh hitungan fisik.
  3. Perhitungan Harga Pokok Penjualan

 

Pengendalian Persediaan

Semua perusahaan memerlukan verifikasi berkala atas catatan persediaan dengan jumlah aktual, berat, atau ukuran, dengan dihitung dibandingkan dengan catatan persediaan rinci. Perusahaan harus mengambil persediaan fisik menjelang akhir tahun fiskal mereka dan melaporkan jumlah persediaan dalam laporan keuangan tahunan mereka dengan benar.

 

Penilaian Persediaan

Perusahaan harus mengalokasikan biaya semua barang yang tersedia untuk dijual (atau digunakan) antara barang yang dijual atau digunakan dan barang yang masih di tangan. Menilai persediaan membutuhkan penentuan

    1. Barang fisik untuk dimasukkan ke dalam persediaan (siapa pemilik barang? -baik dalam perjalanan, barang-barang konsinyasi, perjanjian penjualan khusus).
    2. Biaya untuk dimasukkan dalam persediaan (biaya produk vs periodik).
    3. Asumsi aliran biaya untuk diadopsi (identifikasi khusus, biaya rata-rata, FIFO, ritel, dll).

 

Barang Fisik Termasuk Dalam Persediaan
  1. Barang dalam perjalanan
  2. Penjualan dalam perjanjian pembelian kembali
  3. Barang Konsinyasi
  4. Penjualan dengan hak pengembalian

 

Efek Kesalahan Persediaan
  1. Salah Saji Persediaan Akhir. Dampak kesalahan pada laba bersih dalam satu tahun akan diiikuti pada tahun berikutnya, namun laporan laba rugi akan salah saji selama dua tahun.
  2. Salah Saji Pembelian dan Persediaan. Persoalan tersebut tidak mempengaruhi harga pokok penjualan dan laba bersih karena kesalahan saling mengimbangi.

 

Biaya Produk

Merupakan biaya yang berhubungan langsung dengan membawa barang ke tempat usaha pembeli dan mengubah barang tersebut menjadi kondisi laku. Biaya pembelian mencakup :

  1. Harga beli.
  2. Bea masuk dan pajak lainnya.
  3. Biaya transportasi.
  4. Penanganan biaya berhubungan langsung dengan perolehan barang.

 

Biaya Periode

Merupakan biaya yang secara tidak langsung terkait dengan perolehan atau produksi barang. Biaya periode seperti:

  1. Beban penjualan, dan,
  2. Beban administrasi dan umum

tidak termasuk sebagai bagian dari biaya persediaan.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Persediaan – Bagian 1, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Persediaan – Bagian 1

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

 

Laporan Posisi Keuangan

Laporan keuangan dapat dengan jelas memperlihatkan gambaran kondisi keuangan dari perusahaan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari kegiatan operasi normal perusahaan akan memberikan informasi keuangan yang berguna bagi entitas-entitas di dalam perusahaan itu sendiri maupun entitas-entitas lain di luar perusahaan oleh karena itu untuk  mengetahui Kinerja laporan keuangan tersebut kita memerlukan suatu analisis, analisis-analisis ini lah yang harus dipahami oleh kita baik sebagai manajemen perusahaan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan ataupun sebagai investor jika kita ingin menginvestasikan harta kita terhadap suatu perusahaan. Berikut ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan penjelasan mengenai Laporan Posisi Keuangan.

Laporan Posisi Keuangan

Dapat disebut juga Neraca:

  1. Melaporakan aset, liabilitas, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
  2. Menyediakan informasi mengenai sumber daya, kewajiban kepada kreditur, dan ekuitas bersih.
  3. Membantu memprediksi arus kas dalam jumlah, waktu dan arus kas masuk yang belum pasti.

Kegunaan Laporan Posisi Keuangan
  1. Menghitung tingkat pengembalian (rates of return).
  2. Mengevalasi struktur modal.
  3. Menilai resiko dan arus kas di masa depan
  4. Menilai likuiditas, solvabilitas, dan fleksibilitas keuangan.

 

Keterbatasan Laporan Posisi Keuangan
  1. Aset dan liabilitas dilaporkan pada nilai historis (historical cost).
  2. Menggunakan judgment dan estimasi
  3. Banyak bagian yang bernilai dihilangkan

 

Elemen Laporan Posisi Keuangan
  1. Merupakan sumber daya yang dikelola oleh entitas. Hasil dari kejadian masa lalu. Manfaat ekonomi masa depan diharapkan mengalir ke entitas.
  2. Merupakan kewajiban entitas saat ini. Timbul karena kejadian masa lalu. Penyelesaian ini diharapkan dapat menghasilkan sumber daya keluar yang mewujudkan manfaat ekonomi.
  3. Merupakan sisa kepentingan dari aset entitas setelah dikurangi dengan semua liabilitas.

 

Klasifikasi Dalam Laporan
  1. Aset Tidak Lancar. Umumnya terdiri dari: investasi jangka panjang, properti, pabrik, dan peralatan, aset tidak berwujud, dan aset lainnya.
  1. Aset Lancar. Kas dan aset lainnya yang diharapkan perusahaan dikonversi menjadi uang tunai, penjualan, atau konsumsi dalam satu tahun atau dalam siklus operasi, mana yang lebih lama. Contoh: Persediaan, Piutang, Biaya dibayar di muka, dan Kas.
  1. Ekuitas
  2. Liabilitas Tidak Lancar. Kewajiban yang tidak diharapkan oleh perusahaan untuk melunasinya dalam waktu lebih dari satu tahun atau siklus operasi normal. Terdapat tiga jenis kewajiban yang timbul dari: Situasi pembiayaan tertentu, Operasi biasa perusahaan, dan Bergantung pada kejadian atau tidak terjadinya satu atau lebih kejadian di masa depan untuk mengonfirmasi jumlah yang harus dibayar, atau penerima pembayaran, atau tanggal yang harus dibayar.
  1. Liabilitas Lancar. Kewajiban yang biasanya diharapkan perusahaan menetap dalam siklus operasi normal atau satu tahun, mana yang lebih lama. Termasuk: Hutang yang berasal dari akuisisi barang dan jasa, Pendapatan diterima di muka untuk pengiriman barang atau kinerja layanan, dan Kewajiban lain yang pelunasannya akan terjadi dalam siklus operasi atau satu tahun.

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Laporan Posisi Keuangan, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Laporan Posisi Keuangan

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training