• +08123070905
  • sdmindonesia.info@gmail.com

Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik

Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik

Seperti pada perusahaan jasa dan perusahaan dagang, dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur juga terdiri dari beberapa proses, dimulai dengan adanya transaksi kemudian dilakukan pencatatan pada jurnal dan selanjutnya dilaporkan pada laporan keuangan. Pada tahap penyelesaian ini terdiri dari beberapa proses yang harus dilakukan dan ada perbedaan dengan perusahaan jasa dan perusahaan dagang. Pada kesempatan kali ini Kami tim SDM Indonesia akan memberikan informasi mengenai Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik.

Metode Fisik/ Periodik

Jika perusahaan menerapkan sistem periodik, nilai saldo akhir persediaan di Neraca ditentukan dengan cara melakukan penghitungan fisik persediaan yang lumrah dikenal dengan istilah “stock opname” sederhananya; di akhir periode, fisik barang bersediaan (bahan baku, bahan penolong, barang dalam proses dan barang jadi) dihitung jumlahnya. Jumlah fisik barang lalu dikalikan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) satuan barang.

Perusahaan yang menggunakan sistem periodik, nilai persediaan yang digunakan (dan terjual)—untuk dibebankan sebagai “Harga Pokok Penjualan”, dihitung dengan cara menjumlahkan saldo awal persediaan dengan total pembeliaan (atau persediaan masuk) lalu dikurangi dengan saldo akhir persediaan yang diperoleh melalui penghitungan fisik.

 

Jurnal-Jurnal yang Diperukan
  • Transaksi Pembelian

(D) Pembelian

(K) Kas/Hutang

  • Mencatat Retur Pembelian

(D) Hutang/Kas

(K) Retur pembelian

  • Mencatat Pembayaran Hutang

(D) Hutang

(K) Kas

(K) Potongan Pembelian

  • Mencatat Biaya Transportasi/ Biaya Angkut

(D) Biaya transportasi

(K) Kas

  • Mencatat Biaya Gaji

(D) Biaya Gaji dan upah

(K) Kas

  • Mencatat Biaya Asuransi dan Biaya Utilitas

(D) Biaya asuransi

(D) Biaya utilitas

(K) Kas

 

Jurnal Penyesuaian
  • Depresiasi Aset Tetap

(D) Depresiasi Aset Tetap

(K) Akumulasi Depresiasi Aset Tetap

Alokasi:

(D) Depresiasi bangunan pabrik

(D) Depresiasi bangunan toko

(D) Depresiasi bangunan kantor

(K) Depresiasi Aset tetap

  • Gaji dan Upah

(D) Tenaga kerja langsung

(D) Gaji pengawas pabrik

(D) Gaji pegawai kantor

(K) Gaji dan upah

  • Biaya Utilitas

(D) Biaya utilitas pabrik

(D) Biaya utilitas kantor

(D) Biaya utilitas toko

(K) Biaya utilitas

  • Biaya Asuransi

(D) Biaya asuransi pabrik

(D) Biaya asuransi toko

(K) Biaya asuransi

 

Jurnal Penutup
  • (D) Biaya Overhead Pabrik

(K) Biaya asuransi pabrik

(K) Biaya gaji pengawas pabrik

(K) Biaya depresiasi bangunan Pabrik

(K) Biaya utilitas pabrik

(K) Biaya mesin pabrik

(K) Biaya macam-macam pabrik

  • (D) Persediaan BDP

(K) Biaya overhead pabrik

  • (D) Persediaan barang jadi

(K) Persediaan BDP

  • (D) Laba rugi

(K) Persediaan brg jadi

 

Untuk materi selengkapnya mengenai Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik, bisa di download ppt pada link di bawah ini:

PPT Akuntansi Perusahaan Manufaktur – Metode Fisik

Demikian semoga bermanfaat, dan salam hormat.

Admin,

SDMIndonesia.com

Konsultasi, Training, Pelatihan & In-house Training

hasan100

Leave a Reply